On Solid Rock

Love On The Edge

Author By
On Solid Rock Indonesia

Love On the Edge

(HERS)

“……., Out on the edge you see all the kinds of things you can’t see from the center.”

(Kurt Vonnegut)

 

Minggu pagi biasanya kami serumah bangun jauh lebih pagi untuk siap siap ke gereja. Tapi pagi ini bukan Minggu pagi yang biasa.

 

Seminggu yang lalu, aku dikabari kakakku yang di Bandung,  kalau istrinya yang menderita sakit keras harus masuk rumah sakit lagi karena kondisinya kritis. Dalam kebingungan memikirkan dua anak anaknya yang masih kecil  dan kesedihan melihat kondisi istrinya, kakakku biasanya menghubungi aku via telephone dari waktu ke waktu, dan sebisa mungkin aku temani untuk ngobrol walaupun larut malam, kadang subuh. Sebetulnya aku sangat ingin ke Bandung dan ada di samping kakakku yang sedang susah hati begini, tapi apa daya, kondisi keuangan keluarga kami saat ini sedang betul betul di titik kritis. Selain biaya kehidupan sehari hari yang semakin naik, kebutuhan biaya sekolah anak anak semakin besar, semua itu menambah beban tekanan bagi emosinya Jim yang memang sedang stress berat menghadapi kondisi krisis keuangan juga di perusahaan tempatnya bekerja. Dia jadi mudah tersinggung dan marah.

 

Waktu aku menerima berita dari kakakku, thinking that its not a big deal, aku sampaikan keinginanku pada Jim untuk menjenguk ke Bandung dengan menumpang mobil adik iparku yang memang mengajak aku untuk berangkat sama sama. Ternyata diluar dugaanku sama sekali, perkataanku jadi ibarat bensin yang menyulut api emosinya Jim. Jim marah luar biasa, dan sambil berteriak dia mengatakan bahwa dengan aku pergi menumpang adik ipar di kondisi keuangan sedang serat, berarti aku membuat dia malu sebagai suami, karena bukan hanya soal menumpang kendaraan saja, tapi berarti juga menumpang makan, tidur dan sebagainya. Menurut Jim itu sama saja dengan aku mengumbar pada keluargaku kalau dia tidak bisa mencukupi keperluan istri. Jujur aku kaget Jim bisa berpikir sejauh itu, karena menurutku, dalam kondisi kita tidak mampu dan ada saudara yang sedang butuh kehadiran kita, ya kalau kita saling mendukung dengan apa yang kita punya, rasanya itu hal yang wajar saja. Sejak itu, komunikasiku dengan Jim jadi buruk karena masing masing menyimpan kekecewaan dan kemarahan. Bagi aku pribadi, response Jim itu membuat aku jadi berpikir betapa egoisnya dia untuk tidak consider sama sekali keprihatinan kakakku, hanya karena gengsi, hal sederhana seperti ini sampai membuat dia sedemikian marahnya dan bisa berpikir begitu jeleknya tentang aku, padahal kalaupun dia mengatakan jangan pergi dan jelaskan concernnya baik baik,  aku juga bisa mengerti dan tidak akan memaksa untuk pergi.

 

Sebetulnya selama dua tahun terakhir ini sejak kami berdua mengalami spiritual breakthrough, Jim sudah tidak pernah marah dengan teriak kasar seperti ini. Satu hal yang paling aku hindari adalah untuk anak anak mendengar atau melihat kami berkonflik apalagi sampai beradu mulut, walaupun itu berarti aku harus banyak memendam perasaan. Aku tidak mau mereka memilikki gambaran yang salah tentang hubungan dan komunikasi dalam pernikahan,  dan jangan sampai mereka jadi merasa tidak aman. Tetapi tekanan yang sedang Jim lalui memang tidak mudah sama sekali, akhirnya aku putuskan untuk tidak jadi ikut ke Bandung daripada suasana menjadi semakin panas.

 

Selang tiga hari kemudian, kami sekeluarga akhirnya menyusul berangkat ke Bandung setelah mendapat kabar bahwa kakak iparku berpulang ke rumah BAPA. Selama di Bandung aku berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi kondisi ketidak harmonisan kami di depan keluargaku, tetapi Jim sepertinya begitu marah, dia tidak sungkan menunjukkan sikap dinginnya padaku di depan orang orang. Bahkan sepanjang jalan kembali ke Jakarta (padahal ada adik iparku yang ikut menumpang kembali ke Jakarta di mobil kami) Jim tidak berkata sepatah katapun. Sesampai  di Jakartapun, Jim malah semakin bersikap dingin dan sengaja menghindar berkomunikasi dengan aku. Begitulah suasana di rumah dua hari terakhir ini, heavy and bleak dan membuat aku serba salah, di satu sisi berusaha menjaga perasaan anak-anak, di sisi lain menahan perasaan dari perlakuan Jim ke aku.

Sejak hari Sabtu kemarin, tingkat stressku semakin naik memikirkan besok hari Minggu bagaimana kami akan ke gereja kalau suasana hati semua sedang kacau seperti ini?, secara hati jujur aku tidak ingin pergi ke gereja, karena sadar hati kami sedang tidak pada posisi yang benar sama sekali, percuma ke gereja kalau hatinya tidak siap dan penuh dengan amarah. Semakin malam, hatiku semakin tidak sejahtera, dan akhirnya bulat aku putuskan besok tidak akan pergi ke gereja, kalau Jim mau ke gereja biarlah dia pergi ke gereja sendiri.

 

Tapi sebetulnya ada hal lebih besar yang membuat hatiku lebih susah, besok itu adalah    hari ulang tahunnya Abigail, putri sulung kami…..apa yang akan terjadi besok dalam kondisi hubunganku dengan Jim yang sedang buruk begini .…sedih rasanya memikirkan bagaimana perasaan Abigail kalau harus mengalami suasana tidak nyaman di hari istimewanya. Aku juga sadar kalau ketegangan di antara aku dan  Jim selama seminggu terakhir ini pastinya sudah menjadi tekanan dan kebingungan sendiri untuk Abigail dan Noah….

 

Semalaman aku mencoba untuk tidur, tetapi pikiranku jalan terus, aku tidak tahu jam berapa akhirnya aku tertidur. Kaget terbangun, sinar matahari sudah mengintip dari celah gordyn jendela kamar, aku lihat Jim sudah tidak ada di kamar. Di luar kamar suasana masih sepi, belum terdengar suara anak anak. Ketika aku keluar kamar, aku melihat Jim di ruang tengah sudah berpakaian rapih, sepertinya siap untuk ke gereja. Wajahnya masih tidak bersahabat, dan ketika dia melihat aku keluar kamar, dia langsung mengambil kunci mobil lalu  keluar sambil menutup pintu rumah dengan keras,  masuk ke dalam mobil dan pergi. Aku tekan dalam dalam perasaanku,  hati kecilku berharap dia pergi ke gereja dan mendapatkan pencerahan yang bisa membuat dia lebih tenang, sehingga dia bersedia menekan amarahnya padaku, dan paling tidak kami masih bisa pergi berempat merayakan ulang tahun Abi siang nanti.

 

Aku kaget ketika tidak terlalu lama kemudian aku mendengar suara mobil masuk ke garasi teras, anak anak sudah bangun dan sedang siap siap untuk sarapan di ruang makan. Dari kaca jendela ruang makan aku melihat Jim sudah kembali. Jantungku berdegup keras melihat wajahnya yang begitu tegang, dan kalau diukur secara waktu, berarti Jim tidak jadi pergi ke gereja. Firasatku mengatakan bahwa something really bad is going to happen…

 

Jim masuk rumah dengan membanting pintu keras keras dan langsung masuk ke kamar. Anak anak sudah ketakutan dan aku berusaha untuk tetap tenang dengan harapan bisa memberi mereka ketenangan juga sampai kemudian terdengar bentakan Jim begitu keras dari kamar memanggil aku, “Rosita!!!! Kesini kamu!!!!!”. Setelah shock beberapa saat, dengan panik dan gugup aku jalan setengah berlari kearah kamar. Aku berusaha untuk tidak gemetar, karena seumur kami menikah, aku tidak pernah melihat Jim seperti ini. Dalam ketakutanku aku hanya tahu satu hal; berdoa. Tidak bisa banyak berkata kata, only a desperate cry dalam hati; “Tuhan tolong, Tuhan tolong.” The minute aku masuk ke dalam kamar, aku lihat Jim berdiri di samping tempat tidur, muka dan sorot matanya seperti bola api yang menyalakan kemarahan yang luar biasa, “duduk kamu!!!” dia membentak sepenuh suara sambil menudingkan telunjuknya ke tempat tidur. Masih dalam state stengah shock, aku hanya bisa berseru dalam hati; “Tolong Tuhan, aku harus bagaimana, aku harus bagaimana.” “Panggil anak anak ke sini!!!” ketika Jim meneriakan ini, hatiku langsung berontak, terbayang betapa ketakutannya anak anak, keberanianku tiba tiba muncul dan siap untuk membantah Jim apapun yang terjadi, tetapi kemudian entah bagaimana mulutku seperti terkunci, ketika akhirnya aku berbicara, yang keluar hanya kata “ok.” Kemudian aku memanggil anak anak dengan berusaha agar suaraku tidak gemetar dan tetap tenang bagi anak anak. Mereka masuk ke kamar kami dengan takut dan bingung. Aku segera menarik mereka untuk duduk di samping aku bersandar ke head board tempat tidur sebelum Jim berteriak pada mereka. “Kalian duduk di sini! Dan harus dengar ini!!, lihat ini!! Perempuan yang duduk di samping kalian ini, adalah perempuan yang paling gak tau diri!!!” Jim berteriak sepenuh suara sampai badannya gemetar dengan emosi, telunjuknya yang menunjuk nunjuk mukaku jaraknya hanya beberapa sentimeter dari hidungku, sambil matanya membelalak penuh kebencian. Di state ini aku merasa seperti ada dua kekuatan yang tarik menarik dalam pikiran ku, yang satu menarik aku untuk melihat perasaan dan harga diriku yang diinjak injak, yang satu menarik aku untuk menatap langsung ke matanya Jim, dan suara itu (aku sungguh yakin ini suara Roh Kudus) terus mengingatkan aku; “Itu bukan kata-kata suamimu, itu si jahat yang mau menghancurkan kalian, doakan suamimu, itu bukan kata-kata suamimu…” dan somehow kata kata ini memberi a sense of authority di dalam aku yang membuat aku jadi tenang dan confident, bahwa kendali atas situasi ini  ada di tanganku. Sambil aku terus menatap matanya Jim, aku terus berdoa, “Tuhan runtuhkan kuasa amarah yang menguasai suamiku, dalam nama Yesus, dalam nama Yesus,” sementara Jim terus kalap marah berteriak teriak. Di saat aku berperang dalam bathin itu, aku tidak mendengar apa yang Jim terus terus teriakan, sampai di satu titik aku tersadar, aku hanya mendengar ujung dari teriakannya; “Sekarang minta maaf kamu sama aku!!!!, sungkem kamu sama aku!!!” masih dalam kebingungan mencerna apa yang Jim minta,  aku seperti didorong untuk mengalah, dan mengikuti apa yang diminta. Walaupun perasaanku ingin berontak dan tidak terima, tetapi lagi lagi suara (aku yakini suara Roh Kudus) terus mendorong aku untuk mengalah dan mengikuti saja apa yang diminta. Dengan menelan perasaanku, aku berusaha menjawab dengan tenang; “ok aku minta maaf buat semuanya…”.  “Minta maaf buat apa!!!” masih teriak, Jim menuntut aku mengakui secara spesifik kesalahanku, tapi aku perhatikan teriakannya mulai tidak sepowerful sebelumnya. Karena yang terngiang di telingaku adalah teriakan “perempuan nggak tau diri, nggak tau hormat, nggak tau berterima kasih” jadi itu yang aku sampaikan juga; “aku minta maaf kalau selama ini kamu lihat aku sebagai perempuan yang nggak tau diri, nggak hormat sama kamu dan nggak berterima kasih.” Aku terus menatap matanya Jim, pelan tapi pasti sementara aku bicara itu, sorot amarah di mata Jim menyurut, dan kemudian hilang. Saat itu dia seperti orang baru tersadar dari mimpi,…sadar apa yang baru terjadi dan berusaha mencerna posisinya saat ini didepan aku dan anak anak.

 

Aku hanya bisa terdiam tidak tahu harus berbuat apa, tiba tiba aku teringat anak anak, aku melihat mereka  duduk tertunduk berpegangan tangan. Melihat ini, aku rasakan benteng pertahanan emosiku akan bobol anytime soon. Di waktu bersamaan, aku lihat Jim menghampiri ujung tempat tidur dan terduduk dengan kepala tertunduk, aku sense a great deal of remorse and confusion just hit him hard. Dengan suara lirih dia meminta anak anak untuk keluar dari kamar, setelah aku dan Jim hanya di kamar berdua, bobol lah bendungan emosiku dan aku menangis selepas lepasnya. Sekarang baru aku rasakan sakit nya hatiku mengingat kata-kata Jim yang begitu tajam buat aku. Aku tahu aku bukan istri yang sempurna dan aku punya banyak kesalahan juga, tetapi untuk diamuk dan di cerca sambil ditunjuk tunjuk didepan anak anakku, dan menyebutku perempuan yang tidak tahu diri, tidak tahu hormat dan tidak tahu berterima kasih, sakitnya jauh lebih dari semua rasa sakit hatiku dulu sewaktu Jim belum bertobat dan belum mengerti kebenaran. Terbersit juga dalam pikiranku selagi aku menangis itu; kenapa kok malah setelah Tuhan selamatkan dia, dia bisa jadi begitu jahat sengaja menyakiti istri dan anak anaknya?

 

Jim terdiam seribu bahasa, sepertinya dia memberi aku ruang untuk aku bisa puas lega menumpahkan tangisku. Kemudian perlahan-lahan dia menghampiriku di tempat tidur, duduk di sebelahku dan berkata lirih…”Aku minta maaf Ros..aku sudah keterlaluan nyakitin kamu…apapun alasannya aku nggak akan cari pembenaran, karena aku salah. Aku sudah memperlakukan kamu dengan tidak hormat di depan anak anak.” Entah kenapa kata katanya Jim ini malah rasanya jadi seperti pisau yang ditorehkan pada lukaku yang terbuka, dan membayangkan trauma kepahitan anak anak setelah apa yang mereka saksikan barusan, tangisku semakin menjadi. “I don’t know what has gotten in to me….aku sungguh sungguh menyesali kebodohanku dan aku sungguh sungguh minta maaf. Kalau kamu sulit buat bisa maafin aku, aku terima Ros..aku ngerti,I was way way out of the line.” Di saat ini aku punya dua pilihan, aku biarkan diriku larut dibawa perasaan sakit hatiku, atau aku bersikap dewasa dengan memaafkan lalu move on. Aku sense ketulusan dalam pengakuan dan penyesalannya Jim, Roh Kudus mengingatkan juga bahwa amarah yang menggelora itu, yang memperlakukan aku dengan tidak hormat itu, dan yang menyakiti hatiku dan anak anak itu bukan Jim, tetapi the spirit of anger yang Jim ijinkan untuk overtake dirinya. Aku hanya diam berusaha untuk mencerna dan memutuskan apakah aku mau terima kebenaran ini, sambil berusaha menghentikan sedu sedanku.

Through out this moment, Jim hanya terdiam…ketika aku lihat wajahnya, aku realize ternyata Jim juga berurai air mata, dan aku sense a great deal of sadness dari Jim. Lagi lagi Roh Kudus menegur aku untuk jangan mengeraskan hati, dan bahwa masih banyak hal penting lain yang membutuhkan aku dan Jim untuk bersikap dewasa dan segera bersatu, terutama anak anak. Pada titik ini aku bulat memutuskan untuk memaafkan Jim, menyudahi semuanya, meresponi dengan dewasa dan bersyukur bahwa konflik ini berakhir dan hubungan aku dengan Jim dipulihkan. Segera sesudah aku memutuskan untuk memaafkan, aku merasa beban berat yang menghimpit dadaku terangkat dan aku merasakan kelegaan luar biasa, bahkan membuat aku jadi bisa melihat dan  menghargai kesediaan Jim untuk menjadi yang berjiwa besar, mau menjadi yang pertama merendahkan hati, mengakui serta meminta maafku.

 

Akhirnya kami saling bermaafan dan reconcile, kami sepakat untuk langsung menyelesaikan hal ini dengan anak anak dengan meminta maaf kepada mereka. Sebelum kami ke kamar mereka, aku dan Jim berdoa mengakui dan meminta pengampunan atas kesalahan kami masing masing, mengucap syukur buat perlindungan Tuhan atas hubungan pernikahan kami, dan meminta hikmat buat kami berdua berbicara pada anak anak.

 

Anak anak kaget melihat kami masuk ke kamar mereka, mungkin karena melihat ekspresi kami berdua yang tidak tegang lagi, mereka langsung bergeser memberi kami berdua ruang untuk duduk bersama mereka di tempat tidur. Sambil memeluk bahu mereka, Jim menjelaskan semuanya; apa, kenapa dan bagaimana akhirnya kami sudah saling memaafkan dan reconcile. Jim mengakui dan meminta maaf sudah membuat mereka ikut susah hati, sudah menjadi contoh yang salah dalam solving problem dan dalam memperlakukan aku. Secara khusus juga Jim meminta maaf pada Abigail karena sudah merusak hari istimewanya. Aku dan Jim tidak bisa menahan haru ketika anak anak memeluk Jim sambil berkata “It’s oke pak, we forgive you.” Dengan kepolosan dan ketulusan hati mereka  memaafkan kami. Ketika ditanya how did they feel seeing us conflicting like that, sambil ketawa tawa mereka hanya berkata, “Ya kaget kaget aja bapa teriaknya keras keras, ibu bapak kaya anak kecil, berantem abis itu baikan lagi..”…as simple as that rupanya buat mereka. Setelah kita berempat bertangis-tangisan, Jim memimpin kami semua untuk berdoa mengucap syukur.

 

Hari itu berakhir indah, walaupun kami semua matanya sembab gara gara terlalu banyak menangis, sore itu kami tetap bisa pergi bersama sebagai keluarga, joyfull and happy, menikmati makan malam bersama merayakan ulang tahun Abigail.

 

 

 

Love On the Edge

(HIS)

 “God is using your present circumstances to make you more useful for later roles in his unfolding story

– Loui Giglio

 

 

Aku dapatkan quote ini sewaktu menulis jurnal ini. Aku sangat bisa relate  dan setuju dengan apa yang Loui Giglio tuliskan setelah aku mengalami perubahan perspektif dan juga melewati proses belajar selama kurang lebih 15 tahun belakangan ini.

 

Di antara sekian banyak kebodohan-kebodohan yang aku lakukan karena perspektifku yang masih kacau saat itu, ada suatu peristiwa yang aku tidak akan pernah bisa lupa, yang terjadi di hari ulang tahun ke 12 anak kami yang pertama, Abigail.

 

Waktu kejadian ini terjadi, aku sudah kurang lebih dua (2) tahun bertobat. Hidupku sebelum pertobatan memang sangat kacau, dan pada saat awal aku mencoba menata hidupku itu, karena belum terlalu memahami, aku sempat berpikir kalau orang bertobat itu otomatis hidupnya akan menjadi lebih mudah [atau tepatnya dimudahkan] dan secara otomatis aku akan menjadi orang yang baik. Dengan pemikiran seperti ini, akhirnya aku jalani hidupku selama 2 (dua) terakhir itu dengan struggle luar biasa, karena tidak bisa menerima kondisiku yang setelah bertobat malah semakin menjadi jauh lebih berat dan susah.

 

Diawali dari tempat kerja, waktu itu karena perusahaan yang aku pimpin juga masih relatif baru, jadi aku memang harus membangun perusahaan dengan kondisi dan keterbatasan yang ada. Aku sama sekali tidak ada masalah dengan itu, karena memang aku ini modelnya suka tantangan, terutama kalau aku harus membangun bisnis dari nol dengan berbagai macam keterbatasan. Dan ini bukan perusahaan pertama yang aku bangun dengan kondisi terbatas jadi aku pikir waktu itu, I could do this. Kebetulan memang perusahaan ini tidak sebesar perusahaan-perusahaan yang pernah aku bangun sebelumnya, jadi kesombonganku sudah lebih dahulu bicara lebih banyak ketimbang pengertianku. Ternyata membangun bisnis perusahaan seperti ini tidak mudah sama sekali, dan aku jadi sangat stress karena selama dua tahun perusahaan masih tetap merugi, meskipun dari sisi penjualan mengalami pertumbuhan yang mulai membaik.

 

Di awal-awal aku bertobat, my contentment and confidence masih aku landaskan pada keberhasilan karir dan financial achievement, dan dua hal ini lah yang aku tidak bisa capai dalam dua tahun itu. Aku tidak menyerah pada kondisi perusahaan, tapi aku tidak sadar bahwa perspektif inilah yang membuat aku jadi a very unhappy person dan kondisi hati yang seperti ini perlahan-lahan merontokkan aku dari dalam.

 

Aku yakin kita semua pasti pernah mengalami satu momen dimana, tanpa kita bisa duga sebelumnya, tiba-tiba saja banyak kejadian dan masalah datang bersamaan dalam hidup kita. Seperti ekspresi bahasa Inggris yang mengatakan; “it never rains but when it rains it pours!” – tidak pernah hujan,  tetapi sekalinya hujan, turunnya luar biasa deras. Seperti itu juga yang terjadi padaku di awal tahun pertobatanku.

 

Kejadiannya begini; waktu itu kakak iparnya Rosita yang tinggal di Bandung sakit. Sebenarnya penyakitnya ini sudah dideritanya cukup lama, hanya saja karena kami tinggal di kota yang berbeda, jadi most of the time kami hanya mengikuti perkembangan kondisinya lewat komunikasi telephone.

 

Di bulan Februari 2009 penyakit kakak iparnya Rosita semakin memburuk dan karena kondisinya yang kritis, dia harus dilarikan ke Rumah Sakit dan masuk ICU. Ketika hal itu terjadi, kakaknya Rosita menghubungi dia by phone dan menginformasikan kondisi istrinya. Aku bisa membayangkan pasti Rosita juga down mendengar berita itu, tetapi karena aku sendiri juga sedang banyak tekanan dan tantangan yang harus aku hadapi, aku tidak menyempatkan diri untuk mengambil waktu comforting my wife. Sepertinya, Rosita juga bisa memaklumi kondisiku, karena dia juga tidak mau ‘menggangguku’ dengan beban perasaannya.  Dia hanya  mengutarakan idenya kalau dia ingin ikut ke Bandung dengan menumpang mobil adik iparnya untuk menjenguk, dan mungkin menginap semalam atau dua malam. Waktu aku mendengar itu, yang langsung terpikir olehku….waduh, berapa uang yang harus disiapkan untuk dia bisa ke Bandung dan tinggal beberapa malam di sana?….. Dalam kondisi normal memang request seperti ini tidak menjadi issue bagiku, tetapi pada waktu itu, aku sedang berada pada posisi yang tidak bisa lagi menerima tanggung jawab dan beban tambahan.

 

Rosita sebenarnya mengatakan bahwa nanti di Bandung dia akan menginap di rumah kakaknya dan untuk kebutuhan di sana nanti bisa ditake care sekalian oleh adiknya. Maksudnya supaya hal ini tidak menjadi beban biaya tambahan bagi aku, karena dia tau bahwa memang aku sedang tidak ada dana untuk biaya dadakan ini. Tetapi aku sangat tidak bisa terima pernyataannya, aku jadi berpikir; masa dia nggak lihat sih, kita sendiri kan juga lagi dalam krisis dan aku lagi belum bisa menangani krisis ini, so the least what I expect adalah show some loyalty and have a bit of understanding on my struggle too. Aku jadi marah: “kamu mau buat aku malu di depan saudara kamu?” ….”kalau kamu pergi dan dibayarin orang lain itu kaya mau bilang bahwa suami kamu nggak punya uang dan nggak bisa penuhin kebutuhan kamu, ngerti nggak?”…. itulah reaksiku, dan waktu itu semua keluar begitu aja tanpa  terbendung lagi.

 

Aku tidak menyadari, bahwa selama dua tahun itu, aku tidak pernah berbagi perasaanku kepada Rosita mengenai kondisi yang harus aku hadapi di tempat  pekerjaan, jadi sebenarnya to all fairness, how could I expect her to know that? Ditambah dengan rasa gagal yang membebani pikiran dan memenuhi perasaan, gengsikulah yang keluar and I snapped at my wife.

 

“One thing you can’t hide – is when your’re crippled inside” – John Lennon

 

Kegagalan yang aku alami sebenarnya adalah sesuatu yang bisa saja terjadi pada siapun juga, tetapi bagi aku hal itu sangatlah besar, sehingga tanpa aku sadari kegagalan tersebut kemudian menjadi luka batin. Karena aku tidak mengerti bagaimana harus menghadapinya, maka setelah beberapa saat luka batin itu semakin meradang dan berubah menjadi kepahitan, dan kemudian aku tumpahkan semua kepahitanku itu melalui luapan amarah pada Rosita. Selama beberapa hari setelah percakapan itu, aku masih marah dan memberi sikap dingin kepada Rosita. Memang aku tetap melakukan pekerjaan dan aktifitas ku secara normal, but I simply did not want to speak to my wife, I was disappointed and up set with her.

 

Minggu itu, aku dengan sengaja tidak mau memperbaikki emosiku. Aku biarkan diriku dwell in anger dan refuse to share my feeling with my wife karena aku anggap dia tidak akan mengerti juga. Selain itu aku pikir dia pasti akan lebih ingin attend needs dari kakaknya yang istrinya sedang sakit. Itulah yang terus-menerus memenuhi pikiranku, dan semakin aku entertain pikiran itu aku semakin marah pada Rosita. Aku merasa semua orang sedang mencoba menyudutkan aku. Dititik itu aku hanya berpikir, aku tidak perlu di sukai orang, yang penting aku sudah tidak mau lagi berada di posisi yang harus memberi pengertian dan hormat pada orang lain [I know…! it’s selfish and stupid right? but that’s how I allow pressure to define me]. Meskipun akhirnya Rosita tidak jadi pergi ke Bandung, aku tidak tahu alasannya kenapa dia akhirnya tidak jadi pergi. Ternyata keputusannya untuk tidak jadi pergi, did not make me happy either!

 

Ditengah-tengah our unresolved conflict, kami menerima berita duka, kakak ipar nya Rosita meninggal dunia.  Kali ini aku tidak ada pilihan lain, kami sekeluarga mau tidak mau harus ke Bandung untuk melayad dan menghadiri acara pemakamannya. Rupanya suasana kedukaan itu tidak membuat emosi dan pikiran ku berubah, aku masih saja kesal pada Rosita. Sepanjang acara kedukaan, aku justru menunjukkan sikap yang sama sekali tidak berempati, sikapku yang dingin dan kaku sangat membuat orang sekelilingku tidak nyaman dan awkward. Dititik itu, aku bahkan tidak tergerak sama sekali untuk berdoa, and I know now, itulah yang membuat aku justru semakin menjerumuskan diriku lebih dalam lagi dalam kemarahan yang tidak terkendali.

 

Hari Jum’at sore, setelah pemakaman selesai, kami kembali pulang ke Jakarta karena hari Minggu nya adalah hari ulang tahun Abigail. Biasanya setiap kali anak2ku berulang tahun, aku selalu excited dan mengambil waktu bersama Rosita untuk merencanakan sesuatu bagi mereka. Tetapi that week, I didn’t know what got into me, aku sama sekali tidak merasakan that excitement. Hatiku masih marah dan ada dorongan yang sangat kuat untuk aku mau menyalurkan kemarahan itu kepada Rosita. And again, in the moment when I had that urge, aku tidak berdoa, instead membiarkan pikiran-pikiran jahat dan negatif mengambil alih  fokusku dan hatiku. I shutdown…, aku sama sekali tidak mau berbicara dengan Rosita,  anak-anakpun tidak aku acuhkan sepanjang Sabtu itu.

 

“A fool gives full vent to his spirit, but a wise man quietly holds it back” – proverbs 29:11

 

Hari minggunya, it was March 1, 2009 – hari ulang tahun Abigail. Dengan segala kebodohanku dan kekerasan hatiku aku mencoba pergi ke Gereja sendiri tanpa keluargaku. Aku bangun pagi dan menyiapkan diri tanpa membangunkan istri dan anak-anakku. Again, my good intention sama sekali tidak aku doakan dan aku hanya berpikir untuk menenangkan diri saja dengan pergi ke gereja. Apa yang terjadi di hari itu kemudian, adalah merupakan salah satu hal terburuk yang seorang ayah dan suami dapat lakukan terhadap anak2 dan istrinya.

 

Ditengah perjalananku ke gereja, kembali semua pemikiran-pemikiran dan kekesalanku mengambil alih seluruh fokusku. Kondisi pikiranku di mobil saat itu seperti medan peperangan antara ‘the good and the evil’ – di film Dr. Jackal –  dan karena aku juga tidak mau melibatkan Tuhan sama sekali, maka akhirnya the evil wins. Dengan rasa marah yang besar, aku putar balik mobilku dan aku kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan ke rumah, semua hal yang aku simpan selama seminggu sebelumnya sudah diujung bibirku siap untuk aku lontarkan semua kepada Rosita. Sampai di rumah, tanpa terbendung lagi, aku panggil Rosita dengan nada tinggi untuk masuk ke kamar dan anak-anakku juga aku panggil untuk duduk dan mendengarkan apa yang aku akan katakan. Right at that moment I lashed out all my emotion, blaming and abusing my wife with words that I regretted till this day.

 

Dengan nada tinggi dan penuh kemarahan aku perintahkan Rosita untuk meminta maaf; “Sekarang minta maaf kamu sama aku!!!!, sungkem kamu sama aku!!!” dan itu semua disaksikan oleh anak-anak kami. Aku terus melontarkan kata-kata yang abusive kepada Rosita dan aku biarkan anak-anak melihat dan mendengar dari ku bagaimana istriku ini adalah orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu berterima kasih. Tanpa terkendali lagi pagi itu [on my daughter’s birtday] aku hancurkan sesuatu yang sangat bernilai yang Tuhan berikan dalam hidupku, I destroy my own safety net… for the sake of self pride.

 

Something strikes me ditengah-tengah luapan emosi saat itu, it must be GOD! Terkadang pertolongan dan perlindungan Tuhan datang di bagian akhir dari proses yang DIA ijinkan, karena DIA melihat sesuatu yang kita tidak bisa lihat, terutama pada saat our vision is blinded by our emotion and self pride. Itulah yang terjadi padaku, tiba-tiba aku duduk terdiam, anak-anak aku minta keluar dan meninggalkan kami berdua. Ada perasaan bersalah dan menyesal yang begitu besar dalam hatiku, aku diam sejenak lalu aku menghampiri Rosita dan dengan segala penyesalan aku mohonkan maafnya; “aku minta maaf Ros, aku sudah menyakiti kamu dan aku sudah treat kamu with disrespect didepan anak-anak kita” – kejadian saat itu sangat emosional, aku tau Rosita dan anak-anakku pasti sangat tersakiti oleh perlakuanku.

 

Tetapi Tuhan baik dan betul tidak pernah terlambat, DIA ijinkan aku melihat the worst part of my character yang DIA mau buang dari hidupku [lewat situasi itu]. Pada akhirnya DIA meberikan aku kesempatan untuk mengakui kesalahanku dan bertobat dari semua kesalahan yang aku lakukan selama seminggu itu.  DIA juga yang memberikan aku kemampuan untuk berani dan rendah hati untuk meminta maaf dengan tulus dan sungguh-sungguh kepada Rosita dan anak-anak2ku.  DIA yang memberikan hati yang mengampuni dan hati yang mengasihi kepada anak2 ku dan juga kepada Rosita.

 

Pagi itu membuat aku sadar bahwa, I need to work on my salvation (it’s not gonna happen automatically] and for that HIS grace is sufficient. Kami berdoa bersama sekeluarga, dan Tuhan reconcile hubungan kami dengan luar biasa. Bukti bahwa kuasa pengampunaNYA benar-benar bekerja bisa aku lihat dan rasakan ketika anak-anakku  memeluk aku dan mengatakan; “It’s ok Pak, we forgive you! we love you!”

 

Kami sekeluarga akhirnya bisa spend waktu bersama-sama untuk merayakan ulang tahun Abigail dengan sederhana di sebuah restaurant. Sepanjang kami makan bersama itu, aku terus berdoa dan bersyukur atas pertolongan Tuhan dan aku bertekad saat itu untuk mulai belajar berbagi pikiran, berbagi perasaan dan berbagi ide agar emosi dan kesombongan tidak lagi menjadi celah yang bisa menghancurkan hubunganku dan istriku.

 

 

***************

 

 

TAKE-OUTS MENU:

  1. Konflik di pernikahan tidak bisa dihindari karena dua orang manusia yang berbeda tetapi sama sama pendosa, sedang berproses untuk menjadi satu.
    Konflik bukan tanda menjelang berakhirnya sebuah hubungan, tetapi bukti bahwa hubungan itu sedang dalam proses bertumbuh untuk menjadi hubungan yang lebih dewasa dan kuat, asalkan Tuhan dan FirmanNya yang menjadi dasar dari pernikahan kita.Ingredients: Efesus 4:26, Roma 8:28Price: Apakah saat ini anda sedang berkonflik dengan pasangan? Terlepas konfliknya sederhana atau serius, maukah anda tunduk pada cara Tuhan dan taat pada perintahNya untuk anda di proses lewat perkara ini? Maukah anda percaya bahwa bagi Tuhan tidak ada hubungan yang terlalu hancur untuk dipulihkan, dan diubahkan menjadi kebaikan yang memberkati anda dan banyak orang di sekeliling anda?

 

  1. Kesatuan hati membutuhkan usaha yang sengaja, untuk menjadi satu daging, keduanya perlu telanjang tanpa rasa malu, artinya masing masing bersedia untuk berusaha terbuka, mendengar dan menghargai satu sama lain demi ketaatan kita pada perintah Tuhan. Saling bertukar perasaan, pikiran dan ide untuk mencapai kesepakatan dalam melihat dan menyelesaikan masalah.Ingredients: Genesis 2:24-25, 1 Petrus 3:8, Kolose 3:14Price: Coba evaluasi diri anda dan hubungan anda, kira kira sejauh mana usaha yang sudah dibuat untuk terbiasa saling mendengar dan menghargai ketika bertukar perasaan, pikiran dan ide?

 

  1. Pengampunan itu oksigen dari hubungan kalau mau hubungan kita terus tumbuh sehat dan kuat. Pengampunan total hanya bisa terjadi dengan melibatkan Tuhan. Tuhan yang memampukan kita untuk mau melatih kerendahan hati di setiap kesempatan yang Tuhan berikan. Memang tidak nyaman dan sangat sakit, ibaratnya borok yang harus dikorek sampai ke akarnya untuk kita bisa sembuh total.Ingredients: Efesus 4:31-32, Markus 11:25-26, Amsal 17:9Price: Adakah kesalahan dari pasangan yang sulit untuk anda ampuni?

Coba mulai dengan pemikiran bahwa kita sama sama pendosa dan lemah,

Sangat mungkin kalau dari waktu ke waktu kita juga melakukan kesalahan. Kalau sekarang pasangan anda yang sedang jatuh dan memerlukan grace kita, di lain kesempatan, kita juga akan membutuhkan grace dari pasangan kita, jadi kenapa tidak kita berikan pengampunan untuknya ? anyway ini perintah Tuhan, bukankah kita sudah terlebih dahulu diampuni oleh Tuhan atas semua dosa dan kesalahan kita? Lalu siapakah kita untuk tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita?.

3 Responses

  1. Praise the Lord.
    Suatu kesaksian yang menginspirasi.

    Buat Jim dan Rosita, sebagai anak2 Tuhan, kita masing-masing memiliki salib yang harus kita pikul.
    Kalian sebagai keluarga yang sudah diberkati Tuhan, tidak akan dibiarkannya terpuruk, sekalipun cobaan menghadang, sebab dengan itulah penggenapan kasih Tuhan dinyatakan kepada anak2Nya yang setia berharap dan bergantung padaNya.

    Salute!

  2. Thank you kak Rosita dan Kak Jim untuk sharing pengalamannya yang luar biasa.
    Bersyukur bisa membaca dan mendengar podcast yang kalian sampaikan. Memberikan semangat dan kekuatan untuk fokus pada tujuan Tuhan terhadap pernikahan kami.

    Aku terberkati dengan take outs menu di part ini. Thank you 🙏😇

    Konflik di pernikahan tidak bisa dihindari karena dua orang manusia yang berbeda tetapi sama sama pendosa, sedang berproses untuk menjadi satu.
    Konflik bukan tanda menjelang berakhirnya sebuah hubungan, tetapi bukti bahwa hubungan itu sedang dalam proses bertumbuh untuk menjadi hubungan yang lebih dewasa dan kuat, asalkan Tuhan dan FirmanNya yang menjadi dasar dari pernikahan kita.

    Apakah saat ini anda sedang berkonflik dengan pasangan? Ya.

    Terlepas konfliknya sederhana atau serius, maukah anda tunduk pada cara Tuhan dan taat pada perintahNya untuk anda di proses lewat perkara ini? Maukah anda percaya bahwa bagi Tuhan tidak ada hubungan yang terlalu hancur untuk dipulihkan, dan diubahkan menjadi kebaikan yang memberkati anda dan banyak orang di sekeliling anda.

    intinya : Submit dan taat pada perintah Tuhan ya…❤️😇

    Tuhan Yesus memberkati pelayanan dan keluarga kalian kak 😊🤗

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *