On Solid Rock

Love In Pursuit

Author By
On Solid Rock Indonesia

(HERS)

 “Little by little, day by day, what is meant for you WILL find its way”

(Unknown)

 

“Mbak Ta, beneran deh aku musti kenalin Mbak Ta sama Jim, orangnya tuh asik  and personalitynya kayanya cocok banget sama Mbak,” kata Ira, anak ibu kostku yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri, demikian juga sebaliknya. For your info, beberapa minggu terakhir ini, Ira sangat bersemangat menceritakan bagaimana suasana kerja di kantornya menjadi begitu seru gara gara yang  namanya Jim ini. Sudah beberapa kesempatan Ira ingin memperkenalkan Jim kepadaku, tapi entah kenapa selalu saja miss at the last minute.

 

Pernah suatu saat aku pulang kerja, baru saja aku turun dari taksi, si adik ini berteriak dari teras sampai membuat aku kaget:

“Mbak Taaa!! Aduuuhh Jim baruuuuuu aja jalan balik barusan abis ngedrop aku. Aaah Mbak Ta kenapa baru pulang, biasanya kan jam segini udah di rumah, kan gak  ketemu lagi jadinya.” Dia lanjut menggerutu, sementara aku hanya wondering saja dalam hati, seistimewa apa sih memangnya orang ini sampai adikku sedemikian gigihnya mempromosikan.

 

8 Tahun kemudian…

 

“Soo Ms. Rosita, what is your plan here…any plan on serious dating? or thoughts of settling down yet in this next future?”  Ini pertanyaan GM ku di kantor, hanya karena di usia menjelang 30 aku masih belum terlihat berminat untuk punya hubungan serius dengan seseorang, tepatnya tidak punya pacar, gaul juga minim, yang kelihatan dari waktu ke waktu hanya kerja, kerja dan kerja. Kalaupun terlihat hang out di lounge atau café hotel, pasti kalau tidak sedang entertain client atau tamu hotel (aku kerja di hotel by the way), atau ya ngobrol urusan pekerjaan dengan teman teman kerja.

 

“I’ve got to set you up with a guy!. There’s this one guy who I always thought would be perfect for you. I’ll hook you two up once you’re in Surabaya. Yes you two would look good together.” Nah yang ini adalah kata kata dari regional HR direktur ku, namanya Meggie, mungkin dia geregetan juga melihat hidupku yang menurut dia “boring.”

 

Jujur, aku sendiri sedang suntuk dan jenuh. Rasanya hari hari sudah menjadi rutin dan lelah juga hidup di kota besar yang begitu hectic. Di posisiku sebagai seorang Marketing Communication dari sebuah international hotel chain yang saat itu diperhitungkan sebagai premium hotel bagi crème de la crèmenya society, aku berada di lingkaran komunitas sosial yang menuntut aku untuk selalu on ready mode untuk bersosialisasi setiap saat; pagi, siang, malam bahkan sampai larut malam. Aku sedang butuh suasana dan tempat yang lebih ‘down to earth’ di mana aku lebih bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus banyak berpura pura up to it all the time. Di titik hidupku yang sedang jenuh ini, aku mendapat tawaran dari atasanku untuk bergabung dalam pre-opening team yang mensupport salah satu hotel kami di Surabaya, yang hampir rampung renovasinya untuk dibuka kembali sebagai hotel 5 stars diamond. Aku diminta untuk membantu tim marketing selama 3 bulan. Tentu saja tawaran ini langsung aku terima dengan senang hati. Aku sangat antusias untuk segera berada di dalam suasana yang baru, dan Meggie, direktur area HR kami, tentu saja jadi semakin bersemangat dengan misinya untuk menjodohkan aku dengan salah satu tim eksekutif di Surabaya.

 

Hari pertama masuk kerja di Surabaya, persis seperti yang sudah ku bayangkan, hiruk pikuk, karena kantor sementara yang berukuran sepetak dibuat untuk bekerja beramai-ramai, antara meja satu dengan lainnya tidak berjarak, hanya terpisah oleh sekat gypsum, belum lagi tumpukan tumpukan file memenuhi setiap sisa ruang yang ada di kantor tersebut, siap untuk dipindahkan ke kantor baru .  Posisi mejaku bersebelahan dengan meja dari asisten direktur Food&Beverages. Aku tidak terlalu terkesan dengan gaya dari orang ini, selain berisik kalau sedang bercanda dengan orang orang di kantor, plus gayanya yang menurutku agak sok tebar pesona. Hanya saja karena ini hari pertama, tempat baru dan kota baru buat aku, jadi  ya aku berusaha untuk menjadi pendatang yang baik saja.

 

Hari hari berikutnya adalah hari yang betul betul padat bagi kami semua, mengingat tanggal soft opening sudah semakin dekat. Meggie mengajak aku untuk berelaksasi sejenak seusai jam kantor untuk pergi menonton film di bioskop. Dia mengatakan akan mengajak juga salah satu project director dari site yang aku belum sempat bertemu dan berkenalan. Aku pikir, kenapa tidak, sekalian aku juga ingin melihat lihat Surabaya dimalam hari (karena ini pertama kali aku ke Surabaya). Kami berjanji bertemu di lobby untuk berangkat sama sama, waktu aku sampai di lobby, aku melihat Meggie sedang berbincang dengan 2 (dua) pria. Yang satu orang asing yang aku tidak kenal, jadi aku asumsi dia adalah sang project director itu, dan yang satu nya adalah sang tetangga sebelah mejaku yang akupun belum sempat berkenalan sama sekali. Ketika aku bergabung dengan mereka, Meggie langsung memperkenalkan aku pada kedua pria tersebut. Baru di situ aku tahu nama tetangga mejaku itu adalah Jim, dan nama sang project director adalah Alec.

 

Sambil berbincang kami berempat jalan ke luar lobby untuk memanggil taksi (setidaknya begitulah yang aku kira), tetapi sesampai kami di luar, Meggie malah berjalan mengikuti Jim ke arah parkiran, aku tidak mau terlalu pusing untuk bertanya tanya, hanya berasumsi saja sepertinya kami akan menumpang mobilnya Jim. Mungkin kebetulan satu arah dia pulang. Dan ternyata benar, kami semua berangkat ke bioskop dengan menumpang mobilnya Jim.  Meggie meminta aku untuk duduk di depan, aku ikuti permintaannya tanpa banyak basa basi, aku juga tidak terlalu banyak bicara sepanjang perjalanan, lebih asyik melihat lihat ke luar menikmati pemandangan malam kota, sementara mereka bertiga asik mengobrol dan tertawa-tawa.

 

Setiba di gedung bioskop, aku agak bingung karena Jim tidak berhenti untuk menurunkan kami di pintu masuk, tetapi langsung menuju ke parkiran gedung. Barulah kemudian aku tahu bahwa ternyata Jim juga ikut menonton  bersama dengan kami. Ketika kami tiba, filmya sudah mulai beberapa menit, jadi setelah membeli tiket, kami langsung ke teater sambil setengah berlari, sementara Meggie begitu sibuk mengatur pembagian tiket. Tiket yang sudah diberikan padaku diambil lagi, ditukar tukar, kemudian dikembalikan lagi padaku. Bingung juga sih melihat dia kok sepertinya repot betul hanya untuk urusan tiket. Katanya teaterpenuh dan kami harus duduk terpisah, jadi masing-masing harus pegang tiket sendiri. Setelah mencari cari nomor tempat duduk dalam kegelapan, akhirnya aku duduk dan ternyata aku duduk bersebelahan dengan Alec sang project director, satu baris di atas barisan tempat duduknya Meggie yang duduk bersebelahan dengan Jim. Di awal-awal film itu aku sempat melihat Meggie sibuk berbisik-bisik dengan Jim sambil mereka tertawa-tawa kecil. Tidak ada adegan yang lucu sih di film nya. Later in months baru aku tahu apa yang sesungguhnya terjadi malam itu. Intinya malam itu Meggie ini merencanakan blind date untuk aku dan Jim. Itu sebabnya dia tidak memberi tahu kepadaku kalau dia juga mengajak Jim untuk ikut menonton bersama kami. Rencananya, nanti di bioskop mereka akan atur supaya aku duduk di sebelah Jim, tetapi gara-gara kami datangnya terlambat dan dapat kursinya terpisah-pisah, jadi dalam ketergesaannya Meggie salah memberikan tiket. Yang seharusnya aku duduk dengan Jim, malah yang terjadi aku duduk dengan Alec dan Jim duduk dengan Meggie. Jadi judulnya malam itu adalah blind date yang gatot alias gagal total… Pantas saja malam itu mereka berbisik-bisik dan tertawa tawa terus, sedang menertawakan diri sendiri rupanya.

 

Suatu hari aku sedang intense bekerja dengan manager IT kami untuk set-up sistim retention program, tiba tiba dia bertanya:

“Eh kamu kenal ama Ira ya? Itu kan genk maen gue dulu bareng bareng ama si Jimbong.”

“Jimbong itu siapa?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya soal Ira karena waktu dia menyebut nama Jimbong, tiba-tiba saja aku jadi teringat kegigihan nya Ira untuk memperkenalkan aku pada temannya yang namanya Jim, tapi bukan Jimbong…

“Ini si Jim, kan panggilan  maennya Jimbong.”

Jawabnya sambil menunjuk ke arah mejanya Jim yang saat itu  sedang tidak di tempat. Yah ampun! ternyata inilah orangnya yang selama sekian tahun adik kostku sedemikian persistentnya untuk memperkenalkan aku padanya dan tidak pernah terjadi itu. Ini juga rupanya the guy yang selama ini ada di pikiran Meggie untuk dijodohkan dengan ku… betapa berputar putarnya cara dan waktu sebelum  akhirnya kami bertemu di sini! Kesanku? Seperti yang aku sudah katakan di awal, aku tidak terlalu suka dengan gayanya, mungkin dalam pikiran Ira and Meggie,  Jim ini cocok untuk mengimbangi aku yang lebih cenderung selalu serius.

 

Penugasanku yang awalnya hanya sementara saja di pre-opening team Surabaya, berlanjut menjadi penugasan tetap untuk memimpin departemen marketing di sana. Tidak pernah terpikir apalagi bercita-cita untuk berkarir di luar ibu kota dan tidak pernah mau juga. Somehow, suasana baru dan lingkungan social yang unfamiliar, memberi udara segar bagi kejenuhanku, jadi aku putuskan untuk menerima tawaran penugasan ini.

 

Seiring berjalannya waktu, mau tidak mau aku mulai intense bekerja sama dengan department nya Jim, berarti aku intense juga bekerja sama dengan Jim. Dari mulai banyak kerja sama  dan  ngobrol beberapa kali sambil makan siang, aku jadi mulai sedikit melihat personalitynya dan background keluarganya Jim. Secara professional, etos kerjanya memang impressive buat aku. Selain ternyata orangnya memang sangat apa adanya, bisa dibilang banyak kesamaan dalam hal family values dan culture. Keluarga besarnya juga bergereja di denominasi gereja yang sama dengan keluarga ku. Singkat cerita, dari kedekatan yang terus menerus itu, tidak sampai 3 bulan kemudian kami akhirnya JADIAN… Surprise? Tentu tidaklah ya, sudah bisa terbaca endingnya mulai dari paragraph pertama tulisan ini bukan?.

 

Walaupun cerita sampai aku dan Jim jadian itu singkat, tetapi prosesnya bagi aku sendiri tidak sederhana. Selama ini aku hidup betul betul untuk memuaskan apa yang aku ingin capai dan kejar bagi diriku sendiri. Bukannya tidak terkepikir untuk pacaran serius dan berumah tangga, hanya saja aku tidak merasa mampu untuk menjadi istri yang baik, apalagi menjadi ibu, karena aku orangnya egois, tidak mau terlalu pusing dengan urusan yang tidak menjadi minatku. Sementara kalau menikah, sepertinya aku harus siap dengan macam macam kepusingan ya. Jadi dalam kegalauan aku, waktu di Surabaya itu aku pakai untuk melihat lagi hidupku ini mau aku bawa ke mana. Entah karena faktor usia atau mungkin subconsciously aku mulai terdesak oleh pertanyaan pertanyaan orang di sekeliling mengenai  status kelajanganku, jadi pemikiranku ya tidak jauh jauh dari masalah kapan aku mau serius mulai memikirkan berumah tangga. Aku sampaikan pada Tuhan (mungkin lebih tepatnya nantangin),

“Oke Tuhan, aku sudah cape dan bosan juga dengan semua yang aku jalani sejauh ini. Kalau memang Tuhan lihat ini waktunya untuk aku siap berkeluarga, ya sudah, pertemukan saja aku dengan orangnya. Aku malas kalau harus cari-cari dan jajagi macam macam, karena kalau up to me, ya pasti semua ada saja kekurangannya, jadi lebih baik Tuhan sajalah yang membawa orangnya untuk bertemu aku.”

 

Waktu aku mulai lebih mengenal Jim dan bekerja bersama, hubungan kami purely hanya hubungan sebagai teman kerja saja. Tetapi sewaktu Jim mulai banyak bercerita tentang personal backgroundnya, bagaimana hubungan dia dengan keluarga dan siblingsnya, dan bagaimana kehidupan kekristenan mereka, aku seperti diingatkan pada perbincanganku dengan Tuhan yang aku minta untuk mempertemukan aku dengan calon pasangan hidupku. Belum ada perasaan apa-apa, hanya saja radarku mulai jalan untuk menangkap lebih jelas kalau kalau ini adalah orang yang Tuhan mau pertemukan dengan aku. Jadi dalam proses aku mulai lebih dekat dengan Jim, aku banyak meminta konfirmasi pada Tuhan dan meminta afirmasi saja kalau Jim memang pria yang Tuhan maksudkan bagi aku.

 

Melalui interaksi sehari hari over pekerjaan, lunch dan dinner sama-sama, Tuhan terus membukakan padaku hal-hal tentang Jim yang membuat aku merasa damai sejahtera sampai akhirnya aku berani mengambil keputusan untuk jadian. Di titik inipun aku hanya mau melangkah sampai jadian saja, sama sekali belum mau memikirkan yang lebih jauh dulu, karena untuk level itu, aku mau Tuhan memberikan final affirmation yang membuat aku betul betul yakin kalau Jim memang is the one.

 

Entah Tuhan sedang terburu buru, atau memang aku yang terlalu lambat, hanya 2 minggu setelah kami jadian, Jim meminta aku untuk mengambil cuti beberapa hari dan ikut menemaninya kembali ke Jakarta. Dia resign dari Surabaya karena mendapat tawaran pekerjaan di Jakarta dengan posisi yang lebih tinggi. Sekaligus dia ingin aku untuk bertemu dengan keluarga besarnya yang kebetulan berkumpul semua untuk acara ulang tahun ibunya, juga perpisahan dengan kakak nomor duanya karena mereka sekeluarga akan pindah ke Amerika untuk tugas kerja.

 

First impression and feeling waktu bertemu dengan keluarganya Jim adalah kehangatan. Semua orang apa adanya saja, dan ini membuat aku juga merasa nyaman dan welcome di tengah tengah mereka. Another surprising fact, ternyata kakak perempuannya Jim adalah sahabat pena aku waktu aku masih SMP. Kami sempat bertemu di salah satu acara youth camp gereja. Dia memang lebih kenal dekat dengan kakakku, tetapi aku sempat bersurat-suratan dengan dia for a while, dan aku baru teringat dia sempat bercerita kalau dia mempunyai adik laki laki kembar… what a small world.

 

Sekitar 3 bulan kami menjalani LDR (hubungan jarak jauh), Jim menyampaikan niatannya untuk membawa hubungan ini ke jenjang pernikahan, tanpa acara proposal yang romantis-romantisan seperti jaman sekarang, benar benar right to the point dan hanya melalui telephone saja, maklumlah kami pacarannya jarak jauh. Kebetulan adik kembar Jim juga sedang merencanakan untuk menikah, jadi ibunya mendorong agar dilakukan berbarengan saja. Jujur sih agak ciut juga hati ini ketika secepat itu pembicaraannya sudah mengarah pada pernikahan, hanya saja aku segera tepis jauh jauh karena memang aku sudah berkomitmen menyatakan pada Tuhan untuk serius, dan mulai belajar untuk hidup tidak untuk diriku sendiri saja.

 

Agustus 12, 1995, tidak sampai satu tahun sejak aku dan Jim saling mengenal, kami meresmikan hubungan kami dalam sebuah pernikahan yang sederhana, but very meaningful bagi kami, karena kami didukung dan direstui penuh oleh kedua pihak orang tua dan keluarga besar. Semua itu menjadi peneguhan akhir bagi aku bahwa benar Jim adalah pasangan hidup yang sudah Tuhan siapkan bagiku. And so, love finally ends its pursuit.

 

 

 

 

 

(HIS)

 

“A man falls in love through his eyes, a woman through her ears”

Woodrow Wyatt

 

Kalau mengingat bagaimana awalnya aku bisa tertarik pada Rosita, betul seperti quote nya Woodrow Wyatt ini. Pertama aku berkenalan dengan Rosita di Surabaya, aku langsung berpikir “Hm… Boleh juga nih cewe.” So typical laki-laki…

 

Aku adalah orang yang sangat menyukai tantangan dan kerja keras. Pada waktu aku berusia 25 tahun, aku sudah memegang posisi yang cukup tinggi di salah satu hotel international di Jakarta. Sebagai laki-laki muda, mempunyai karir yang bagus di industry perhotelan yang pada waktu itu dilihat sebagai industri yang sangat bergengsi, membuat keyakinan diriku begitu tinggi. Tanpa bermaksud untuk melebih-lebihkan, but I was really good in what I was doing di tempat kerja. Aku betul betul mengerti  how to find my way around untuk membuat orang impressed di tempat kerja dengan ethos kerjaku. Bukan hanya itu saja, di tempat kerja dan juga di lingkungan pergaulanku, banyak wanita yang juga jadi ‘tertarik’ padaku karena prestasi (dan juga penampilan tentunya ha…ha…). Tetapi, dan ini memang benar adanya, selain bekerja keras, aku juga rajin dan senang untuk menebar pesona (ha…ha…ha…).

 

Suatu malam, waktu sudah menunjukkan pukul 21:30, dan aku masih berada di kantor ketika telephone di kantorku berbunyi. Giri, salah satu kawanku, menghubungiku dari Filipina.

“Jim, lo mau jadi Assistant Director of Food & Beverage di hotel 5 star diamond nggak?”

Giri menyebutkan sebuah hotel kenamaan yang berafiliasi dengan international chain.  Tentu saja aku langsung menjawab mau –  hanya orang bodoh yang menolak kesempatan untuk bisa bekerja di hotel ini pikirku,  ditambah posisi yang ditawarkan juga tinggi.

Giri temanku melanjutkan, “tapi ini di Surabaya, gimana?”

“Boleh aja Gir!”

“Kalo gitu lo email gue CV lo sekarang, gue lagi sama GM Hotelnya dan doi mau lihat CV lo,” kata Giri.

Ini awal cerita bagaimana akhirnya aku pindah ke Surabaya dan akhirnya bertemu dengan Rosita.

 

Surabaya end up menjadi satu kota yang memorable bagi aku dan Rosita. Di kota ini kami bertemu dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Meskipun jujur aku tidak pernah punya rencana atau bayangan bahwa aku akan bertemu dengan seseorang dan membangun hubungan secara serious dengannya, simply because I was having so much fun working and doing what I like di tempat kerja dan juga memang belum siap untuk membuat komitmen.

 

Aku sudah kurang lebih 4 bulan bergabung di hotel ini lebih dulu dari Rosita. Sebelum Rosita datang, berita tentang kedatangannya sudah aku dengar dari beberapa pihak. Tim dari Sales dan Marketing  menceritakan bahwa mereka akan mendapatkan kepala departemen baru dari Jakarta, dan bahwa dia seorang perempuan. Dia dikirim dari hotel chain kami di Jakarta, dan rupanya bukan orang baru di hotel chain ini, karena dia sudah bekerja cukup lama di group pada waktu itu.  Di salah satu kesempatan lain waktu aku bertemu dengan regional HR Director kami yang kebetulan sedang berkunjung ke hotel kami, dia juga sempat bercerita mengenai kedatangan Rosita ke Surabaya.

Dia mengatakan:  “There is this woman who will join the hotel as Director of  Sales and Marketing. She is coming from our sister hotel in Jakarta, she is smart and good looking. I’m sure you will like her.” Aku jadi penasaran seperti apa sih orang ini.

 

Di hari pertama dia masuk kerja, aku tidak sempat untuk langsung berkenalan dengannya meskipun kami share satu kantor sementara waktu itu. Karena aku hampir selalu berada di lapangan terus menerus untuk segala persiapan bagi pre-opening, kalaupun ada waktu rileks sejenak, biasanya aku sempatkan untuk tebar pesona dulu pada anak buahnya yang sebagian besar wanita. Belakangan aku baru tahu bahwa gaya lebayku ini sempat membuat Rosita tidak memiliki kesan pertama yang baik tentang aku.

 

Keseruan opening hotel is something that I always treasure di perjalanan karirku. I really enjoy opening project, meskipun tingkat stress nya harus diakui cukup tinggi.  Beruntung waktu di Surabaya, aku memilikki atasan dan Corporate Executive team dari kantor Regional yang fun to work with. Salah satu dari merekalah yang diluar pengetahuanku, diam-diam rupanya sudah cukup lama merencanakannya – mencoba untuk menjodohkan aku dengan Rosita.

 

Satu hari aku ingat, it was mid-week and every-body was working very hard. Kami kemudian berpikir untuk have a mid-week break sedikit sebelum melanjutkan minggu kami. Regional Director yang mau menjodohkan aku dengan Rosita, told me,

“Let’s go out for a movie later tonight!”

Idenya adalah to set up a blind date untuk aku dan Rosita. Dia mengajak rekannya juga dari site project supaya tidak terlalu kentara misinya. Dia akan mengatur sedemikian rupa agar nanti aku dan Rosita duduk berdua di teater nya. Ide ini dia utarakan kepadaku dan untuk itu dia meminta kami untuk berangkat bersama dari hotel memakai mobilku. Dia bahkan sudah mengatur untuk nanti meminta Rosita duduk di depan dan dia dan rekan kerjanya akan duduk di belakang. By the way, nobar itu adalah untuk pertama kalinya aku dan Rosita pergi keluar bersama, jadi aku pikir why not? It was not such a bad idea. Meskipun aku sendiri tidak mempunyai ekspektasi apa-apa, aku hanya mau having fun saja. Malam itu ternyata rencana kami berantakan. Aku lupa dimana salahnya, somehow aku diberikan nomor tiket yang salah sehingga akhirnya Rosita end up duduk dengan Alec, project director dari hotel kami, dan dan aku duduk dengan regional HR directorku itu. We were laughing selama film diputar karena realize plan kita jadi berantakan dan we end up sitting with the wrong person. Cerita ini sampai hari ini masih selalu kami ingat dan kami masih selalu tertawa kalau mengingat kebodohan itu.

 

Meskipun apa yang seharusnya menjadi kencan pertama kami gagal, aku dan Rosita jadi mulai lebih kenal dan karena departemen kami memang berhubungan erat secara pekerjaan, kerjasama kami juga mulai intense. Dari waktu ke waktu biasanya kami lanjut membicarakan pekerjaan kami sambil makan siang atau makan malam bersama di hotel.

 

Ketika kami masuk ke dalam budgeting period di hotel, aku dan Rosita jadi jauh lebih intens lagi bekerja sama untuk menyelesaikan budget kami. Aku ingat it was one week-end terakhir sebelum kami harus menyerahkan semua budget dan business plan kami di minggu berikutnya. Kami harus menginput budget dengan menggunakan satu program baru yang mana kami sama-sama belum terlalu menguasai. Aku dengan keyakinan diriku yang kadang suka kelebihan (ini menurut aku sendiri lho!) menawarkan bantuan pada Rosita yang waktu itu juga nampaknya lumayan stressed out. So there I was, mencoba membantu sementara aku sendiri sesungguhnya juga belum terlalu menguasai program tersebut. Guess what? I screwed up…,semua data yang sudah aku input somehow tidak tersimpan dan semua datanya hilang, padahal waktu sudah menunjukkan jam 10:00 malam, dan Senin pagi data tersebut harus sudah diserahkan pada GM kami. Malu… gengsi… kesal sendiri… dan penasaran, masa sih aku tidak bisa menyelesaikan ini?  Jadilah I keep it for my self dan tidak berani mengakui ini pada Rosita and tried to fix it sepanjang malam itu. Berhasil sih, meskipun aku akhirnya tidak tidur sama sekali! Baru keesokan harinya aku ceritakan apa yang terjadi dan aku bisa menunjukkan pada Rosita (even in a hard way) bahwa aku bertanggung jawab. Sejak hari itu I guess penilaian Rosita mengenai aku pun berubah (ini nggak GR lho!).

 

It was one evening, aku dan Rosita sedang berkerja di kantor. Karena penat, aku ingin rileks sejenak, membayangkan  pizza dan segelas bir sepertinya  cocok untuk relaksasi,  jadi aku menawarkan Rosita untuk makan malam bersama di pool restaurant kami yang memang serves pizza dan beer. Ajakan ini diterima dan setelah makan malam itu aku mulai melihat Rosita differently, karena apa yang kami bicarakan sepanjang dinner itu.

 

Malam itu, kami banyak bercerita mengenai keluarga kami masing-masing, dan bagaimana pergumulan orang tua kami dalam menyediakan pendidikan dan mempersiapkan kami anak-anaknya. Selama percakapan malam itu, aku mulai melihat bagaimana Rosita dan aku share similar family value. Somehow aku tidak tahu apa, tapi aku merasa sangat senang  dengan fakta itu. Fakta itu membuat aku sangat nyaman dan merasa aku tidak perlu untuk berpura pura dengan wanita ini. Secara organik setelah dinner kami malam itu, perasaanku terhadap Rosita mulai bertumbuh dan aku mulai pursue it dengan lebih sengaja.

 

Ketika aku mulai pursuing my feeling dengan Rosita, reaksi Rosita sangat bold dan realistis. Dia tidak menyembunyikan perasaannya, tetapi dia tahu juga bahwa aku ini punya reputasi sebagai seorang laki laki yang suka memberi pengharapan pada banyak wanita, some of them bahkan Rosita tahu. Waktu aku mengatakan bahwa aku berniat untuk serius dengannya, Rosita berkata:

“Kamu harus yakinkan aku kalau kamu bener-bener serius, karena aku nggak sekedar mau having fun.”

Aku jawab, “Aku juga mau serius.”

Lalu apa yang dia katakan kemudian membuat aku lumayan kaget, karena selama ini memang dia tidak pernah bertanya tanya soal ini.

Rosita mengatakan, “Kalau kamu memang beneran mau serius, kamu beresin aja dulu semua relation lain yang kamu punya sekarang.”

Wow… sama sekali aku tidak expect itu yang akan dia katakan, tetapi meskipun demikian, I was actualy ready untuk melakukan apa yang dia minta karena memang aku juga mau serius untuk membangun hubungan dengan Rosita.

 

Ketika genap satu tahun aku di Surabaya, aku menerima tawaran berkerja kembali di Jakarta. Awalnya aku agak bimbang juga, should I take this offer or not. Karena kalau aku ambil tawaran ini, itu berarti aku harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Rosita. Karena to be fair, kami kan baru mulai pacaran, tidak  mungkin aku meminta dia untuk give up pekerjaan dan kariernya hanya untuk mengikuti aku, padahal kami belum ada commitment lebih jauh. Akhirnya memang aku tetap mengambil tawaran pekerjaan tersebut, karena kesempatan untuk aku bisa mendapat posisi dan tanggung jawab yang lebih tinggi, dan ini baik bagi portfolio ku.

 

Aku ini orangnya memiliki kecenderungan implusive dalam membuat keputusan, demikian juga halnya dengan perkawinan. Sebelum hubunganku dengan Rosita, aku pernah beberapa kali mengajak beberapa wanita untuk menikah juga, dan itu membuat Ibuku sangat stress karena hal itu tidak pernah terbukti serius. Jadi waktu untuk pertama kalinya aku mengajak Rosita untuk datang ke acara keluargaku, occassionnya waktu itu adalah ulang tahun ibuku dan farewell kakakku yang akan pindah ke Amerika bersama keluarganya. Ibuku memanggil aku dengan nada yang serius dia mengatakan;

“Ini anaknya baik, kamu jangan main-main lagi dan jangan bikin malu mama!”

Meskipun aku bisa sense ibuku belum percaya keseriusan anaknya, tetapi aku bisa melihat dari sambutannya, bahwa Ibuku welcome Rosita dengan terbuka dan tidak ada resistensi sama sekali. Feeling yang sama aku terima juga dari kakak-kakakku dan juga adik kembarku. Aku memang tidak menunjukkan secara langsung, tetapi response dari keluargaku yang seperti ini memberikan kelegaaan dan membuat aku juga semakin yakin bahwa aku mau menikahi Rosita dan spend the rest of my life dengannya.

 

Komunikasi kami selama LDR ini biasanya hanya via telephone. Tidak terlalu lama setelah acara keluarga ini, aku menelepon Rosita dan memberanikan diri untuk mengajak dia menikah. Tidak ada rencana atau cara proposal yang special, I just asked her dan luckyly she said yes! (ha…ha…ha…).

 

Tepatnya 12 Agustus 1995 setelah kurang dari setahun kami pacaran. Kami meresmikan pernikahan kami di kota kelahiran Rosita, acara yang sederhana yang dihadiri oleh sebagian besar keluarga dari orang tuaku yang ada di Jakarta maupun dari kota lain. Dari keluarga Rosita semua keluarga besarnya datang dan kami benar merasakan suka cita yang luar biasa karena perkawinan ini benar-benar direstui oleh semua keluarga dari ke dua belah pihak.

 

 

 

***************

 

 

 

TAKE-OUTS MENU:

 

  1. Manusia berencana, Tuhan menetapkan. Kita boleh saja membuat rencana sematang apapun dan menurut kita itu yang terbaik, atau kita begitu berupaya agar sesuatu terjadi atau tidak terjadi, pada akhirnya, tetap ketetapan Tuhan yang akan digenapi. Bukan hanya dalam hal hubungan saja, tetapi juga dalam semua aspek kehidupan. Paling aman, setiap langkah perencanaan dikonsultasikan saja dengan Tuhan, karena akhirnya pasti baik, kalaupun prosesnya kemudian ada tantangan tantangannya, pasti tantangan itu juga Tuhan ijinkan untuk membawa kita pada tujuan yang lebih the best dari yang sanggup kita pikir is the best.

 

Ingredients: Proverbs 16:9, James 4:13-15

 

Price: Coba renungkan rencana apa yang sedang anda buat saat ini, sudahkah anda melibatkan Tuhan dan berkonstultasi denganNya?

Kalau sekarang anda sedang dalam proses pendekatan dengan seseorang, maukah anda mulai melibatkan Tuhan juga dalam proses ini?

 

  1. Tuhan tahu siapa pasangan terbaik bagi kita. Siapapun calon pasangan hidup yang kita yakini adalah dari Tuhan, tetap Tuhan mau kita lakukan bagian kita untuk memproses keputusan dan pilihan kita, karena di dalam proses itu, mau tidak mau hubungan dan komunikasi kita dengan Tuhan menjadi intens. Intensitas menimbulkan keintiman (seperti yang terjadi dengan aku dan Jim, karena intense berkerja sama sama dan berbincang sama sama, akhirnya jadian) begitu juga hubungan kita dengan Tuhan. Semakin kita intim dengan Tuhan, semakin kita peka pada tuntunan Tuhan bagi kita.

 

Ingredients: Genesis 2:18, Psalm 37:4, Proverbs 19:14

 

Price: Apakah saat ini anda sedang menjalin hubungan dengan seseorang? Mungkin ini waktu yang baik untuk mulai menjalani proses hubungan ini bersama sama dengan Tuhan, atau kalau anda sekarang belum bertemu dengan seseorang tersebut, cobalah mulai bawakan dalam doa dan meminta Tuhan untuk menuntun langkah anda agar dipertemukan dengan orang nya atau untuk memastikan apakah memang ini orang yang Tuhan kehendaki bagi kita.

 

  1. Restu kedua belah pihak orang tua adalah kunci bagi sebuah hubungan pernikahan. Dukungan doa mereka menjadi payung perlindungan bagi kita dalam menjalankan pernikahan. Kesatuan mereka menjadi kekuatan pendukung bagi kita, begitu juga sebaliknya, ketidak sepakatan mereka atas hubungan kita akan menjadi tekanan kuat yang merentankan pernikahan kita.

 

Ingredients: Amsal 6:20-23, Kolose 3:20, Keluaran 20:12

 

Price: Bagi yang saat ini sedang dalam proses pendekatan, atau yang sudah berniat untuk serius menikah, pastikan kedua pihak orang tua memberi restu dengan tulus, kalau masih ada kendala, lebih baik betul betul doakan dan bicarakan hati ke hati pada orang tua dan juga pada pasangan, sambil terus meminta hikmat tuntunan Tuhan untuk  bagaimana menyikapi dan mengambil keputusan yang tepat.

 

Bagi yang sudah menikah dan hal ini menjadi kendala, mungkin ini saat yang baik untuk mulai sungguh-sungguh melibatkan Tuhan dan nyatakan kerinduan untuk pemulihan hubungan. Tidak ada hubungan yang terlalu rusak bagi Tuhan untuk diperbaikki, asalkan kita mau masuk dan tunduk pada cara dan waktu Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *