On Solid Rock

qna@onsolidrock.org

Love in its Kind

Author By
On Solid Rock Indonesia

“Riches take wings, comforts vanish, hope withers away, but love stays with us, Love is God.”

(Lew Wallace)

 

 

Tak terasa 2020 akan segera berakhir dalam beberapa hari lagi. Bagi kami (dan kami yakin bagi semua dari kita) sungguh suatu anugerah untuk bisa sampai di penghujung tahun 2020 yang dikarenakan pandemi Covid 19,  tantangan dan naik turunnya membuat ciut hati dan gemetar lutut.

 

Berjuta kisah kehidupan yang mematahkan hati kita saksikan di sekeliling kita dan kita dengar juga dari berbagai penjuru dunia. Kami ingat betul pada kwartal pertama tahun ini, bagaimana para pemimpin negara di dunia begitu overwhelmed dan hampir tak berdaya dalam kebingungan menghadapi pandemi yang sama sekali tidak diduga.

 

Bagi kami sendiri, sebagai pasangan dan sebagai orang tua, kami menutup tahun 2019 lalu dengan pengharapan dan konfiksi yang begitu kuat bahwa tahun 2020 akan menjadi “The Year of Harvest” bagi kami sekeluarga. Jadi kami akhiri tahun 2019 dengan excitement, siap memasuki 2020 dengan full hope to welcome a greater year.

 

Tepat di hari pertama tahun 2020, banjir parah melumpuhkan Jakarta. Hmmmm……what a way to start the year…tapi pemikiran ini dengan mudah kami tepis dan lanjut dengan semangat dan keyakinan tinggi kalau tahun ini akan jadi tahun luar biasa.

 

Di akhir minggu pertama bulan Januari, anak anak harus berangkat lagi ke UK untuk kembali kuliah. Kami mengantar mereka ke bandara dengan excitement to see apa yang Tuhan milikki buat mereka di tahun ini. Anak kami yang sulung,

 

Abigail akan lulus di tahun ini, jadi kami juga excited menantikan kelulusannya dan beriman bahwa Tuhan akan membawa kami sekeluarga bisa hadir dalam wisudanya. Anak kami yang kedua, Noah, juga sedang begitu bergairahnya dengan studi spesialisasi yang sedang dia jalani. It was a great feeling for all of us. Full of spirit and anticipation.

 

Belum bulan January berakhir, kami dikejutkan dengan kabar dari Abigail kalau kampusnya mendadak di lockdown dan semua mahasiswa tidak diperkenankan keluar dari ruang kelas masing masing. Berita nya begitu simpang siur, ada berita yang mengatakan bahwa ada korban penusukan di dalam kampus, tetapi ada juga yang mengatakan ada suspect bombing di area kampus. Kami amat sangat lega saat mengetahui Abigail sedang tidak ada jadwal kuliah pagi itu, jadi dia aman di apartemennya. Sambil tidak putus berdoa dan juga intense komunikasi dengan Abigail, kami terus memantau perkembangan situasi melalui portal kampus dan berita lokal di sana. Dari apa yang kami baca, pihak kepolisian dan keamanan di sana sampai menurunkan pasukan menutup kampus dan semua akses public dan transport menuju ke area kampus, juga dengan beberapa helicopter berputar putar di seputar area. Puji Tuhan beberapa jam kemudian lockdown di angkat dan mahasiswa diperbolehkan meninggalkan kampus. Dari klarifikasi yang kami baca di berita, rupanya it was a false alarm. Seseorang yang sedang jogging di seputar area kampus, mengenakan vest dengan pemberat, kemudian dilaporkan karena tanda tanda yang mencurigakan, dan di suspect sebagai suicide bomber. Again…what a way to start a semester. But despite this unpleasant incident, kami tetap semangat dan teguh dengan keyakinan kami, that this is going to be a great year.

 

Memasuki bulan Februari, kami dikejutkan lagi oleh berita yang kali ini kami terima dari Noah, salah satu mahasiswa internasional di kampusnya meninggal karena ditusuk oleh seseorang di area town center. Tidak jelas apa yang menjadi penyebabnya, tetapi jujur rasa ngeri mulai mengganggu di pikiran kami. Kami jadi lebih intense untuk mengingatkan Noah agar berhati hati dan tidak keluar

 

terlalu malam, selain kami juga semakin intense untuk mendoakan keamanan dan keselamatan anak anak kami. Jujur, situasi seperti ini yang seringkali membuat kami amat sangat bersyukur bahwa kami memilikki Tuhan yang adalah juga BAPA bagi kami. Kami tidak punya keluarga ataupun kenalan sama sekali di UK, tetapi karena kami punya BAPA yang maha hadir, BAPA yang maha melihat, dan BAPA yang maha kuasa, inilah yang menjadi keamanan kami yang ultimate. Kami bisa lebih tenang ketika kami sudah percayakan anak anak ke dalam tangan penjagaanNya.

 

Di penghujung bulan Februari, tepat satu hari sebelum ulang tahun Abigail, ketika berita mengenai penyebaran covid 19 baru mulai intense tetapi belum terlalu dirasakan sebagai ancaman global, kami menerima kabar dari Abigail kalau sudah beberapa hari terakhir sesak nafasnya kambuh. Selain dia memang memilikki banyak alergi dan cenderung asthmatist sewaktu kecil, dia juga dari waktu ke waktu mengalami anxiety attack dimana nafasnya menjadi pendek dan tidak nyaman. Saat itu memang Abigail sedang intense mempersiapkan desertasi nya untuk ujian akhir. Kami mencoba menenangkannya dengan meminta dia untuk pergi ke pantai dan banyak menghirup udara segar. Tetapi semakin malam (waktu Jakarta) rasa sesaknya semakin berat, dan dadanya semakin tidak nyaman. Dalam keadaan skype tetap on bersama kami, kami temani dan terus doakan Abigail ketika dia mencoba mengatur pertemuan dengan dokter. Cukup ribet prosedurnya sampai akhirnya dia bisa konsultasi secara online dengan dokternya yang kemudian menganjurkan Abigail untuk segera ke rumah sakit bila ada tanda tanda tertentu muncul.

 

Kami berusaha untuk tetap tenang walaupun rasa khawatir dan panic dari waktu ke waktu menyerang. Ada pemikiran untuk meminta Noah berangkat dan menemani Abi, tetapi perjalanan dari kotanya Noah ke kotanya Abigail pun memakan waktu berjam jam sehingga tidak efektif juga. Doa adalah satu satunya antidote kepanikan kami. Semalaman itu kami tidak tidur, kami intense mendoakan Abigail dan juga meminta Abigail untuk segera ke rumah sakit saja

 

kalau memang sudah tidak nyaman sama sekali. Subuh waktu Jakarta, akhirnya Abigail memutuskan untuk pergi ke rumah sakit karena nafasnya semakin sulit dan dia merasakan sakit di dadanya, sementara tangan kirinya kebal dan sulit digerakkan. Gak karuan rasanya hati dan pikiran, tapi sekali lagi, bersyukur kami punya BAPA yang maha segalanya, seruan kami dalam doa padaNYA memberikan kami ketenangan dan kekuatan untuk terus percaya. Kami cuma bisa mengiringi Abi dalam doa dan menemaninya on the line sepanjang perjalanan dan di rumah sakit.

 

Tuhan sungguh amat sangat baik, dan janjiNya ya dan amin. Dalam kekalutan situasi ini, Tuhan kirimkan malaikatNya untuk menemani Abigail, melalui teman satu flatnya Amy, yang dengan sukarela menawarkan dirinya untuk menemani Abi ke rumah sakit dan betul betul standby menunggu proses dari mulai pendaftaran di emergency sampai pada setiap proses pemeriksaan yang total waktunya kurang lebih 8 jam. Selama Abi dalam proses pemeriksaan, kami bisa berkomunikasi dengan Amy untuk mendapatkan update dari setiap prosesnya, dari mulai cek darah keseluruhan, pemeriksaan rinci jantung, sampai pada rontgen paru paru, yang puji Tuhan semua hasilnya baik. Kesimpulannya anxiety attack dan acid influx, jadi Abigail diberi obat untuk lambung dan diperbolehkan pulang. Luar biasa lega ketika Abi sudah kembali di apartemen dan akhirnya dia bisa tidur pulas.

 

Sepanjang bulan Maret, penyebaran Covid 19 di skala global semakin intense. Sambil terus memonitor anak anak, secara domestik kami juga diperhadapkan pada tantangan di bisnis dan pekerjaan yang terdampak secara signifikan. Selain pekerjaan utama Jim sebagai professional, kami juga memilikki dua buah restoran yang sudah beroperasi lebih dari 10 tahun, tetapi berhubung dengan kelesuan ekonomi, bisnis inipun mengalami hantaman yang cukup berat, ditambah lagi dengan munculnya pandemi, prospek ke depan tidak memungkinkan kami untuk bisa melanjutkan usaha ini. Amat dilematis, di satu sisi kami dianugerahkan karyawan yang begitu loyal yang sudah bekerja

 

bersama kami selama ini, walaupun tahun lalu mereka tidak menerima kenaikan gaji karena kondisi bisnis yang memang drop, tetapi mereka tetap memilih untuk stay, di sisi lain secara financial kami juga tidak mungkin memaksakan untuk tetap beroperasi. Ini jadi pergumulan sangat berat terutama bagi Jim. Ketika akhirnya kami memutuskan untuk tutup, karena ada ketidak sepakatan dalam negosiasi penalty dengan pihak landlord, Jim terancam disomasi oleh pihak landlord yang nampaknya tidak bersedia untuk bernegosiasi lebih jauh.

 

Memasuki bulan April, kenyataan tentang serangan pandemi global mulai menciptakan kepanikan. Di UK sendiri, di kota nya anak anak, panic buying mulai terjadi. Noah kesulitan untuk mendapatkan beras dan beberapa bahan makanan pokok sudah mulai sulit didapat. Jangan tanya soal masker, kosong dimana mana. Tissue toilet, tissue basah dan hand sanitizer sulit didapat juga. Di kampus Abigail, sudah ditemukan positive case. Di kampus dan gedung flat nya Noah juga sudah ditemukan positive case. Sementara itu, di dalam negeri kita sudah mulai ada wacana travel ban dari luar negeri.

 

Menyikapi semua ini, banyak keputusan kritikal yang harus kami ambil. Selain masalah prospek kondisi finansial yang tidak menentu, masalah keamanan dan keselamatan anak anak menjadi concern tertinggi buat kami. Dengan segala pertimbangan dan berat hati, kami mulai sounding kepada anak anak bahwa kemungkinan besar mereka harus  segera kembali ke tanah air dalam waktu dekat.

 

Pada awalnya mereka tentu protes, merasa bahwa mereka ok ok saja dan akan mampu untuk deal dengan situasinya. Bisa sangat dimaklumi perasaan mereka. Buat Abigail ini adalah tahun terakhirnya kuliah. Dia sudah memilikki rencana bagaimana dia ingin melewati tahun terakhirnya bersama dengan teman temannya. Dari mulai graduation, travelling bareng bareng, mencari pekerjaan di sana dan lain lain. Abigail dan Noah juga sudah membeli tiket untuk nonton konser music yang mereka sukai di London bulan April mendatang, dan ini

 

adalah pertama kalinya mereka akan nonton konser bersama di luar negeri. Sementara untuk Noah yang baru saja mulai tahun pertamanya, dia sedang begitu excited dengan setiap kesempatan yang ada dan dengan potensi exposure yang bisa dia dapatkan di sana. Dalam waktu seminggu mendatang juga Noah sudah excited dan siap akan berangkat ke Prague untuk field study bersama kelas nya. Semua rencana dan mimpi mimpi ini harus mereka patahkan dalam waktu begitu singkat, bahkan mereka tidak memilikki kesempatan untuk mencerna apa yang sedang mereka hadapi. Kondisi ini benar benar memaksa kami untuk bergantung seratus limapuluh persen kepada Tuhan, selain meminta hikmat dalam berkomunikasi dengan anak anak, tetapi juga meminta pertolonganNya untuk berbicara kepada hati anak anak.

 

Singkat cerita, dengan perkembangan kondisi yang ada, akhirnya dalam waktu kurang dari 8 Jam, Noah harus pack up his things, empty the apartment dan  kembali ke Jakarta sebelum peraturan travel ban efektif berlaku. Abigail dalam waktu kurang dari 24 jam juga harus kembali ke Jakarta sebelum London mengeluarkan pengumuman Lockdown. Anak anak harus kembali dengan mengosongkan aparteman semampunya mereka. Mereka tentu masih berpengharapan bisa kembali lagi, dan berpikir kepulangan ini hanya sementara saja. Lagi lagi, manusia merencanakan, Tuhan yang menetapkan. Hari ini kami tau bahwa anak anak akan tetap bersama dengan kami di sini untuk beberapa saat. Bisa terbayangkan kekecewaan mereka ya. Sampai hari ini mereka masih struggle untuk menerima kenyataan ini. Dan sampai hari ini juga kami sedang terus mendampingi dan mendoakan hati mereka untuk pada waktunya, Tuhan mampukan mereka melihat apa yang menjadi rencana Tuhan sesungguhnya ketika Tuhan ijinkan mimpi mimpi mereka sepertinya dihempaskan.

 

Anak anak sudah aman bersama dengan kami, namun pergumulan Jim di pekerjaan dan di bisnis semakin meningkat seiring dengan berbagai peraturan pemerintah dalam meresponi pandemi ini. Juga bagaimana kami masih harus menyelesaikan tanggung jawab administrative kami bagi pendidikan anak anak.

 

Jim selalu mengatakan, dalam Tuhan, masalah kita itu tidak menggulung, tetapi terurai satu persatu. Dan benar sungguh ajaib Tuhan, melalui doa dan persekutuan denga Roh Kudus secara intense, semua perkara kemudian terurai satu persatu. Semua kewajiban administrative kami dalam urusan pendidikan anak anak dan dalam bisnis Tuhan berikan jalan keluar yang luar biasa, somasi ditarik dan pada akhirnya Jim bisa mendapatkan kesepakatan dari pihak landlord yang tidak sama sekali merugikan pihak manapun. Masih banyak tantangan dan masalah masalah lain yang harus kami urai satu per satu. Tetapi dengan apa yang kami sudah alami bersama dengan Tuhan, kami jadi punya ketenangan untuk menjalankannya one day at a time, karena yakin Tuhan ada dan kasihNya buat kami pasti.

 

Di tengah kehiruk pikukan, kepusingan, tekanan, kekhawatiran dan ketakutan tersebut di atas, secara parallel Tuhan juga terus taruh beban di hati kami untuk segera merealisasi pemikiran pelayanan yang sudah Tuhan tanam sejak sepuluh tahun yang lalu, yaitu pelayanan keluarga dan pasangan melalui media cetak. Juga beban pelayanan untuk membangkitkan gairah para suami dan ayah mau turut serta aktif belajar dalam komunitas yang membangun semangat mereka untuk mendalami peran dan fungsi mereka sebagai pemimpin keluarga.

 

Cara Tuhan memang luar biasa kreatif. Ketika kami cuek cuek saja, atau tepatnya menunda nunda terus prompting yang DIA berikan melalui Roh Kudus, Tuhan justru mengirimkan banyak jiwa jiwa ke dalam kehidupan kami yang membuat kami melihat betapa mereka membutuhkan terang dan pengharapan. Inilah yang kemudian semakin mendorong kami untuk secara sungguh sungguh mulai mengerjakan apa yang Tuhan sudah taruh di hati kami. Maka di tengah tengah unfortunate season, justru Tuhan dorong kami untuk melahirkan buah ide nya; ON SOLID ROCK. Bulan Agustus, bertepatan dengan Silver Anniversary pernikahan kami, Tuhan lahirkan pelayanan On Solid Rock ini. Bersamaan dengan itu juga, Tuhan berikan kami courage untuk mulai melibatkan para ayah dalam komunitas parenting kami di @theseedfamily.id.

 

Pergumulan kami lainnya juga adalah bagaimana kami bisa mendampingi anak anak dalam melalui masa masa yang mengecewakan mereka ini, serta membantu Noah membangun iman untuk dia bisa kembali kuliah pada Tahun 2021. Walaupun demikian, along the way Tuhan tidak pernah gagal untuk menyatakan penyertaanNya. Bagi Noah, Tuhan sediakan begitu banyak kesempatan berupa projek projek yang ia jalankan bersama teman temannya, maupun kesempatan yang diberikan oleh industry bagi dia untuk tetap terus mempraktekan dan mengembangkan skill set nya di industry. Tuhan juga terus memberi dia ide ide untuk bagaimana dia akan mengisi waktu gap year nya ini. Bagi Abigail, harapan dan mimpinya untuk pursue career di bidang yang sesuai dengan passion nya menjadi tantangan yang begitu sulit di saat perusahaan pada umumnya sedang dalam posisi ‘on hold’. Tetapi adalah kemurahanNya kalau saat ini Abigail tetap bisa bekerja (free lance) menyalurkan potensi menulisnya di salah satu media on line asing. Abigail juga diberi kemampuan untuk menyelesaikan desertasinya lebih awal dan kami boleh menerima berita yang membawa sukacita bahwa dia dinyatakan Lulus dengan First Class Honor.

 

Semua yang kami ceritakan ini bukan untuk tujuan memamerkan masalah masalah kami, karena kami yakin masing masing kita memilikki pergumulan yang tidak kalah bahkan bisa jadi jauh lebih berat dari apa yang kami lalui. Namun dalam bulan Natal dan memasuki ujung tahun 2020 ini, yang kami ingin bagikan adalah bagaimana kami semakin melihat jelas bahwa dalam setiap permasalahan, tantangan, dan kekecewaan, sesungguhnya Tuhan memberikan kesempatan untuk kami melatih karakter dan kemampuan kami di area yang selama ini kami tidak pernah ketahui atau bahkan sadari bahwa kami perlu bertumbuh di area tersebut. Sakit dan amat tidak nyaman memang, tetapi dibandingkan dengan apa yang kami terima, semua itu menjadi begitu berharga.

 

Selain pertumbuhan, kami juga sadari bahwa Tuhan sesungguhnya sedang memberikan kami cerita cerita iman baru yang Tuhan mau untuk kami bagikan bagi mereka yang membutuhkan pengharapan dan iman. Sehingga cerita tentang

 

kebesaran Tuhan dapat terus digemakan, khususnya di masa masa kelam seperti sekarang ini, di mana kita semua sangat membutuhkan terang dan pengharapan untuk menjadi kekuatan kita untuk terus maju. Dan sekarang kami juga bisa melihat dengan jelas bahwa it has been indeed “The Year of Harvest” for our family. Walaupun bukan harvest secara materi, tetapi harvest of heavenly riches.

 

Kami juga melihat bagaimana melalui semua ini, kami jadi semakin mengenal  kehendak hatiNya, caraNya dalam menjawab doa, dalam medidik dan dalam mengasihi kita sebagai anak anakNya, dan apa yang menjadi pengharapanNya terhadap kami. Dengan demikian ultimately kami jadi terus semakin melihat berbagai dimensi dari keTuhananNya.

 

Bagaimana dengan anak-anak? Apakah mereka juga bisa melihat apa yang mereka alami ini seperti kami melihatnya? Mungkin saat ini mereka belum bisa melihat dengan clear, tetapi kami yakin bahwa Tuhan terus bekerja di hati mereka. Kasih dan panjang sabarnya Tuhan menjadi anugerah bagi kami. Kalau Tuhan saja bersabar dengan kami untuk bisa sampai pada titik ini, kami percaya Tuhan juga sedang berjalan bersama dengan anak anak kami membimbing mereka untuk semakin mengenal DIA melalui kehidupan mereka. Tugas kami adalah terus bersatu hati menginspirasi, membimbing, mengajarkan, mendoakan dan bersabar mendampingi mereka melalui prosesnya.

 

Melalui semua ini, kami punya kesempatan untuk mengalami dan merasakan KASIH Tuhan. Kami bisa mengalami secara real bagaimana Tuhan sungguh hidup dalam hidup kami, bagaimana Tuhan sungguh perduli bahkan pada hal paling sepele yang pernah kita pikirkan, DIA jawab dan berikan itu pada saat saat yang sama sekali kita tidak harapkan, bahkan sudah lupa juga kalau pernah memikirkan itu.

 

Kami bisa menyaksikan dahsyatnya kuasa Tuhan yang membelah laut bagi bangsa Israel, itu juga DIA lakukan buat keluarga kami. Kami bisa menyaksikan bagaimana kedaulatanNya memerintahkan hati manusia, itu juga DIA lakukan bagi keluarga kami. Pengenalan inilah yang membuat kami menjadi sedikit lebih berani dan merasa aman untuk menjalani apa yang Tuhan ijinkan kami lalui.

 

KASIH, seringkali kita konotasikan dengan sesuatu yang nyaman, menyenangkan, tidak menyusahkan dan menguntungkan bagi kita.

 

Dalam kasih ada kesabaran, kelemah lembutan dan kerendahan hati, tetapi dalam kasih juga ada disiplin, pelatihan yang berulang ulang yang termasuk didalamnya koreksi dan hajaran.

 

Mungkin di antara teman teman ada yang mengalami kehilangan orang yang dikasihi tahun ini, mungkin ada yang saat ini sedang menderita sakit dan dalam kondisi terisolasi, mungkin ada yang kehilangan pekerjaan, mungkin ada yang  mimpi mimpi dan rencana rencananya buyar dan harus menanti dalam ketidak pastian, mungkin ada yang mengalami masalah dalam hubungan dengan pasangan atau dengan anak anak, bahkan mungkin ada yang pernikahannya sedang berada di ujung tanduk. Apapun yang menjadi pergumulan teman teman, kiranya apa yang kami bagikan ini, dapat membantu teman teman mengingat kembali bahwa KASIH Tuhan itu sempurna, lebih tinggi dari makna yang kita mengerti secara literal. Dan dengan pengenalan ini, kita semua bisa melihat hal hal baik yang Tuhan sudah dan sedang lakukan bagi kita dan keluarga di tahun 2020, dan dengan penuh keberanian dalam pengharapan memasukki tahun 2021, untuk melihat bagaimana Tuhan terus menyatakan kasihNya bahkan dengan lebih dahsyat lagi bagi mereka yang percaya dan berharap kepadaNYA.

 

Proverbs 13:24, 22:15 & 26, 29:15 & 17

Psalm 34:19, Isaiah 43:2, James 1:12, John 16.33

Romans 5: 3-5

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *