On Solid Rock

qna@onsolidrock.org

Love In Confusion

Author By
On Solid Rock Indonesia

(HERS)

 

 

“When you don’t know what to do, go back to the places, the people and the promises where you know you last heard God”

(Pam Farrel)

 

 

Pada saat kami menikah, kami masing-masing sedang berada di puncak karir. Kebetulan kami berdua memilikki ambisi dan passion yang sama dalam hal menikmati tantangan berkarir dan pekerjaan.

 

Sebelum menikah, aku sudah kembali dari Surabaya dan bekerja di Jakarta agar aku dan Jim bisa berkumpul bersama setelah menikah.

 

Bisa dikatakan kami sangat menikmati  tahun tahun pertama pernikahan kami. Aku merasa memilikki kebebasan penuh untuk tetap berkarir di dunia professional walaupun sekarang aku sudah berstatus sebagai seorang istri. Jim sangat mendukung karirku, aku melihat ada kebanggaan tersendiri baginya ketika aku juga memilikki eksistensi di dunia professional. Di titik ini aku memang masih menyingkirkan jauh jauh (tapi tidak menutup pintu) pemikiran untuk mempunyai anak. Yang pasti aku belum siap melepas kebebasanku dan masuk ke dalam peran yang akan mengubah kehidupan yang aku nikmati selama ini. Jim pun punya pemikiran yang sama, bahkan dia lebih ekstrim lagi mengatakan bahwa dia tidak ingin punya anak. Dia ingin terus menikmati kebersamaan kami berdua saja, melakukan apa yang menjadi kesukaan kami dan mengejar impian-impian kami tanpa terbeban dengan hal hal lain.

 

Kebersamaan kami umumnya dilakukan saat kami selesai kerja dan bisa pulang sama sama, biasanya kami mampir di cafe untuk sekedar hangout atau sekalian makan malam sambil menunggu kemacetan berkurang. Topik yang paling membuat kami berdua excited adalah ketika kami membicarakan tentang tantangan dan keberhasilan kami di pekerjaan masing-masing, atau tentang kesempatan-kesempatan yang bisa kami pertimbangkan untuk membawa jenjang karier kami semakin naik lagi. Dari waktu ke waktu kami juga hangout bersama dengan teman teman kami, atau kadang kami masing-masing hangout bersama teman teman sendiri, lalu Jim akan menjemput aku untuk kemudian pulang bersama-sama. Kalaupun kami di rumah, biasanya kami luangkan waktu berdua dengan menonton televisi atau video. Di masa itu belum ada Netflix ataupun TV kabel, jadi masih sewa video vhs kalau bosan sama acara TV. Pergi berdua mencari film ke tempat penyewaan video juga merupakan kebersamaan yang cukup sering kami lakukan.

 

Hal baru yang aku mulai nikmati bersama Jim adalah bagaimana Jim memberi warna pada kehidupan ini dengan melakukan hal hal yang di luar kebiasaan secara ‘in prompt to’ alias dadakan tanpa rencana sebelumnya. Aku adalah orang yang cenderung melakukan segala sesuatu ‘by the book’, sementara Jim sangat suka yang tidak rutin dan berani dalam mengambil resiko. Salah satu contoh dari spontanitas nya adalah ketika suatu malam kami dalam perjalanan pulang dari kantor. Waktu sudah menunjukkan kurang lebih jam 22.00, tiba tiba saja Jim mengusulkan:

“ke Bandung yuk.”

Tentu saja pertanyaanku berikutnya adalah: “kapan?”

“sekarang aja, enak kita jalan santai udah nggak macet.”

“serius?”

“iya serius, aku lagi enak nyetir nih, kita nginep aja semalam atau dua malam gitu, balik Minggu.”

Yang langsung terbayang di kepalaku adalah harus packing buru-buru dan aku nggak punya cukup waktu untuk memilih-milih dan memastikan tidak ada kebutuhan yang ketinggalan, karena semakin lama aku packing, berarti kita akan semakin malam berangkatnya.

“Hmmm..aku mau aja sih, tapi berarti kita pulang dulu buat packing, enggak kemaleman ya nanti sampe Bandungnya kan bisa bisa baru subuh.”

“Nggak usah balik, kita langsung aja sekarang, ini kita tinggal terusin lurus udah masuk toll.”

“Tapi masa nggak bawa baju ganti? Kita pastinya harus nginep kan?”

“Gampanglah itu, kita beli aja di sana peralatan sama kalau perlu baju ganti kita  tinggal ke factory shop ya kan.”

Tentu saja jawaban Jim membuat aku yang cenderung “Mrs. by the book” terbingung-bingung. Tetapi setelah berhasil meyakinkan Jim, akhirnya kami putar balik pulang dulu untuk packing seadanya. Sambil packing yang terburu buru itu, perlahan aku jadi excited juga dengan rencana ini. Betul juga kata Jim, kenapa harus dibuat ribet, yang tersedia dan bisa kita beli di sana (seperti misalnya handuk, sundries) ya nggak usah dipack.

 

Ide-ide Jim yang spontan akhirnya perlahan tapi pasti aku nikmati, karena ternyata seru juga. Aku jadi mulai terbiasa untuk packing seadanya dan dari waktu ke waktu melakukan hal hal di luar rencana.

 

Secara umum tahun tahun pertama pernikahan kami was fun and exciting, tetapi pada waktu bersamaan banyak juga hal hal yang membuat aku gamang dan tidak yakin harus bagaimana menyikapinya.

 

Salah satunya adalah mengenai kebiasaan Jim tidak mengabari aku kalau dia akan pulang kerja larut malam di luar jam kebiasaannya. Dalam pekerjaannya, Jim banyak menangani event-event yang umumnya berlangsung sampai larut malam, maka waktu kerja Jim otomatis lebih panjang daripada waktu kerjaku. Kadang Jim mengabari aku di kantor siang atau sore harinya kalau dia akan pulang malam, tetapi di banyak waktu aku yang berinisiatif menanyakan apakah Jim ada event malam dan kira kira jam berapa ia akan pulang. Lebih sekedar agar aku tahu bahwa dia akan pulang larut, juga supaya aku tahu apakah aku harus menyiapkan dinner bagi Jim atau tidak (walaupun menyiapkan dinner itu artinya sekedar memesan makanan atau membeli dari luar).

 

Pada awalnya aku oke saja kalau Jim pulang malam dan tidak memberi kabar, tetapi ketika ini mulai menjadi pola, apalagi kalau sampai lewat tengah malam ia belum pulang, kekhawatiran dan ketidak tahuan ini jadi sangat mengganggu to a point aku jadi begitu jengkel dan frustrasi. Kadang aku berpikir apa susahnya sih dia usaha sedikit untuk ngabarin aku, apa enggak kepikir ya kalau aku khawatir ketika dia pulang di luar jam kebiasaannya. Pada masa itu telephone genggam belum menjadi alat komunikasi yang umum, dan di paviliun tempat kami tinggal, tidak ada pesawat telephone. Kalau aku perlu menghubungi seseorang, aku harus ke rumah induk, itupun tuan rumah biasanya tidur cepat. Di atas jam 9 malam, pintunya sudah dikunci dan mereka sudah tidur, any incoming call after that hanya akan kita terima pesannya keesokan paginya.

 

Jadi bisa dibayangkan ya betapa frustrasi dan khawatirnya aku kalau harus menunggu sampai waktu sudah lewat tengah malam, tanpa bisa menghubungi untuk mengetahui apakah kondisi Jim aman aman saja. Akhirnya mulai muncul pikiran-pikiran jelek yang membuat aku semakin lelah karena khawatir; jangan jangan mobilnya mogok? bagaimana kalau mobilnya mogok di area yang gelap lalu dia dirampok, dan seterusnya dan seterusnya. Pikiranku bisa jadi begitu liar membayangkan hal yang tidak tidak. Dan yang paling membuat aku jengkel adalah ketika akhirnya Jim pulang, dia masuk rumah dengan santai, tanpa menjelaskan kenapa dia pulang sampai larut, seolah olah tidak ada yang salah dengan itu. Bagi Jim sendiri, nampaknya ini hanya hal sepele yang tidak masuk dalam hitungannya sebagai masalah.

 

Aku berusaha memahami dengan berpikir bahwa mungkin karena selama ini Jim sudah sangat terbiasa hidup sendiri, sehingga bukan kebiasaannya untuk memberi tahu seseorang kapan dia akan pulang (memang karena enggak ada yang nungguin juga mungkin ya).

 

Pernah aku coba membicarakan hal ini dengan Jim, tapi ya seperti yang sudah aku duga, bagi Jim aku terlalu khawatir berlebihan dan permintaanku untuk dia paling tidak berusaha mengabari aku kalau harus pulang larut, dianggap permintaan yang tidak realistis dalam keterbatasan alat komunikasi waktu itu. Di satu sisi aku memahami situasinya, tapi di sisi lain juga aku tetap mengharapkan paling tidak dia memahami perasaan khawatirku ketika dia pulang di luar jam kebiasaannya, apalagi kalau sampai sudah lewat tengah malam. Ya sudahlah, mungkin memang aku yang harus belajar lebih realistik, walaupun tidak bisa  aku terima, aku putuskan untuk tidak pernah membahasnya lagi, daripada kalau aku bahas bahas terus malah membuat suasana jadi mulai tidak kondusif.

 

Hal lain yang membingungkan juga adalah bagaimana meresponi the fact bahwa Jim amat sangat casual dengan rekan rekan sekerja wanita. Contohnya, dalam bercanda Jim tidak sungkan-sungkan untuk memeluk bahu rekan wanitanya. Aku tahu itu memang gaya friendly nya Jim dan sepertinya itu hal yang biasa juga dalam lingkungan kerja mereka.

 

Sebelum aku menikah dengan Jim, aku sudah mengetahui bagaimana Jim bergaul dengan rekan rekan kerjanya pria maupun wanita, dan aku sama sekali tidak terganggu dengan itu. Aku sendiri banyak memilikki teman teman pria yang cukup dekat dan sering pergi bersama, tetapi setelah aku menikah, secara otomatis aku jadi sangat berhati hati untuk tidak terlalu bebas dengan mereka seperti sebelum menikah. Dari apa yang aku amati, sepertinya bagi Jim hal ini bukan issue yang big deal, disamping mungkin dia berpikir bahwa aku juga kenal baik dengan rekan rekan kerjanya tersebut. Pernah aku coba sampaikan secara casual concernku, tapi seperti yang sudah ku duga, bagi Jim itu bukan issue, karena mereka rekan kerja yang sekaligus juga sahabat. Ya aku ngerti sih tentang persahabatan, tapi bagi aku, kalau sudah menikah tetap harus ada certain line drawn, apalagi dengan teman lawan jenis. Jadi aku putuskan untuk mencoba memahami selama tidak melewati batas. Bagi aku pribadi, aku tetap pegang prinsipku bahwa sekarang aku berstatus sebagai istri dari Jim dan apapun yang aku lakukan, aku pastikan aku menjaga etika dan kehormatanku sebagai istri dan Jim sebagai suami.

 

Kejadian lain yang menunjukkan kebingungan kami memasukki dunia pernikahan adalah ketika suatu saat Jim menyampaikan padaku kalau dia menerima undangan resepsi pernikahan dari salah satu staff kantornya pada hari Sabtu mendatang. Jadi dia menyampaikan ini supaya aku tahu bahwa hari Sabtu tersebut dia akan pergi ke resepsi bersama dengan rekan rekan kantornya. Dia menganjurkan agar aku menginap di rumah ibunya supaya aku tidak sendirian, nanti pulang resepsi dia akan menyusul dan kita akan sama sama menginap over the week end di rumah ibunya.

 

Anda penasaran kan reaksi aku gimana. Jujur aja, I was speechless, bukan marah atau gimana sih, tapi karena tidak menyangka saja. Sebagai istri pastilah ketika Jim bilang ada undangan resepsi, staff nya pula yang menikah, otomatis di pikiranku aku yang akan di ajak untuk mendampingi dia ke resepsi. Apakah aku marah waktu itu? Mungkin tepatnya bingung ya, apakah memang begini kebiasaannya, kalau urusan kantor mungkin memang nggak harus ngajak istri, yang pergi ya orang orang kantor saja. Anda boleh bilang aku naïf, atau bodoh, tapi jujur itulah yang ada di pikiranku saat itu. Jadi akhirnya aku terima itu sebagai budaya di kantornya mungkin. I was fine and tidak menjadikan ini big deal, hanya saja memang tetap jadi pertanyaan di benakku, memang begini ya?.

 

Di awal awal pernikahan ini memang banyak hal yang sebetulnya aku sendiri bingung, apakah memang begini kalau sudah menikah, atau akunya yang terlalu menuntut. Sampai mana sih batasnya yang ‘wajar’ dan kapan sebenarnya aku boleh mulai menegur atau mengoreksi.

 

Secara umum aku melihat sepertinya bagi Jim tidak ada yang harus berubah kalau kita sudah menikah. Di beberapa kesempatan sewaktu kami ngobrol casual,  memang Jim sempat mengungkapkan bagaimana dia tidak mau kami jadi berubah hanya karena sudah menikah dan akhirnya pernikahannya jadi membosankan. Dia ingin kami berdua terus berpacaran walaupun nanti sudah menikah lama. Mungkin perspektif ini juga yang membuat Jim merasa benar bahwa tidak ada yang harus dirubah ketika sudah menikah.

 

Semua kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan ini tidak terlalu mendapatkan perhatian kami lebih lanjut, karena most of the time kami sudah tenggelam dalam kesibukan pekerjaan kami masing masing. Setiap masalah yang aku coba bicarakan, umumnya hanya dibahas sekilas di permukaan saja, lalu terkubur secara alami karena kami berdua memang tidak mengambil usaha yang lebih untuk itu.

 

Tanpa kami sadari ini kemudian menjadi pola komunikasi kami dalam membahas sebuah permasalahan, tidak pernah sampai ke akar nya, dan karena tidak ada salah satu dari kami yang mempermasalahkan lagi issue nya, jadi secara alami dianggap selesai saja. Mungkin anda bertanya tanya, kok aku sepertinya lebih banyak diam dan menyimpan saja instead of stand up and say it out loud supaya ada closure dari setiap pembicaraan.

 

Jujur saja, sebetulnya aku orang yang amat tidak sabar, bisa dibilang kepala batu juga kalau bicara tentang hal yang aku yakini benar dan akan go all the way untuk memastikan orang lain bisa melihat yang sama dan akhirnya setuju dengan pemikiranku. Dan aku juga punya potensi untuk cenderung bicara meledak ledak. In the mean time, Jim adalah pria dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi, tidak takut resiko. Sama seperti aku, selain cenderung mudah naik oktaf, dia juga tipe yang akan dengan adamant memastikan orang lain melihat point of view nya kalau ia yakini benar. Ditambah, sepanjang perjalanan karier kami, kami berdua selalu bekerja di lingkungan multinational yang budayanya menuntut kami untuk  speak out, stand up and defend our point of view openly dalam berkomunikasi dengan para pimpinan kami yang pada waktu itu memang masih banyak didominasi oleh orang orang asing. Jadi kami berdua memang punya kepribadian yang sama kuat nya, sama sama determine nya, dan cenderung keras kepala juga.

 

Di sisi lain, sebagai anak perempuan satu satunya, aku tumbuh dalam persahabatan yang sangat kuat dengan ibuku. Dari sejak aku kecil (masih usia SD) ibuku begitu banyak berbagi tentang bagaimana seorang istri, seorang ibu itu harus bersikap dalam perannya sebagai penolong bagi suami seperti yang Tuhan mau. Kebanyakan yang beliau bagikan adalah pengalaman hidupnya sendiri dalam menjalani pernikahannya dengan ayah ku. Begitu banyak tantangan dan tidak mudah, tetapi dalam keseharian aku melihat bagaimana ibuku selalu mampu mengendalikan suasana rumah senantiasa aman dan nyaman buat kami anak anak. Kami anak anak pada waktu itu (paling tidak aku) bahkan hampir tidak pernah melihat ibu dan ayahku bersitegang di depan anak anak, atau melihat ibuku memperlakukan atau berbicara dengan tidak hormat kepada ayahku. Yang aku lihat justru devotion beliau kepada ayah, dan selalu ia tanamkan kepada kami untuk selalu menghormati ayah bagaimanapun situasinya.

 

Pengajaran ini begitu kuat melekat buat aku dan menjadi keyakinanku juga, bahwa aku harus memastikan suasana rumah selalu aman dan nyaman bagi keluarga, khususnya nanti kalau sudah ada anak. Sehingga ketika aku masuk ke dalam pernikahan, secara otomatis memang kesadaranku begitu tinggi untuk memastikan tidak ada kekisruhan yang bisa merusak suasana. No matter buat aku tidak mudah, tapi aku selalu mengingatkan diriku kepada semua prinsip-prinsip yang ibuku sudah tanamkan padaku dan aku terima sebagai keyakinanku juga. Inilah kunci utama kenapa ketika kami membicarakan sesuatu, kemudian mulai ada nada nada naik, itu menjadi alarm bagi aku untuk berhenti, supaya tidak menimbulkan suasana tidak nyaman.

 

Apakah caraku ini benar dan membantu dalam pertumbuhan hubungan kami sebagai pasangan suami-istri? Well.. ikuti terus kisah kami, berharap setiap jatuh bangun kami, terus menjadi pelajaran berharga yang dapat anda ambil tanpa harus membayar apa yang harus kami bayar.

 

 

(HIS)

 

 

“Confusion and impotence are the inevitable results when the wisdom and resources of the world are substituted for the presence and power of the Spirit”

(Samuel Chadwick)

 

Dua tahun pertama pernikahan kami, menurut aku adalah masa yang paling mudah kalau tidak bisa dikatakan menyenangkan. Sebab di tahun awal kami membangun keluarga, kami berdua sedang ada di puncak karir di industry yang juga sangat bertumbuh pada waktu itu. Kesepakatan kami pada waktu itu bahwa memang Rosita harus tetap bekerja dan mengejar karir yang diimpikannya. Supaya talenta dan potensi yang di milikinya tidak terkubur hanya karena dia sudah menikah.

 

Saat itu adalah merupakan kebanggaan tersendiri ketika aku bisa memperkenalkan istri yang memiliki karir dan posisi eksekutif kepada rekan kerja dan kolega bisniku. Itu sebabnya dalam dua tahun pertama pernikahan kami, bekerja dan membangun karir sangat mendominasi fokus kami. Dan karena kami berdua menikmatinya, aku melihat perkawinan ini sangat menyenangkan sebab aku tidak perlu berubah dan bisa carry on dengan apa yang aku sudah rintis dan geluti sebelumnya dengan di dukung penuh oleh istriku. Bahkan untuk urusan memiliki anakpun, bukanlah hal yang ingin aku explore bersama Rosita dan tidak pernah menjadi prioritas ku sama sekali. Aku ingat, aku pernah mengatakan kepada Rosita, bahwa aku memilih untuk tidak punya anak supaya kita bisa bebas melakukan apa yang kita sukai bersama tanpa dipusingkan dengan tanggung jawab untuk membesarkan dan mindidik anak.

 

Dengan gaya hidup yang seperti ini, ditambah dengan kebiasaanku yang ‘in prompt to’ membuat perkawinan kami di awalnya begitu exciting dan jauh dari kebosanan. Hari-hari dimana kesibukan di tempat kerja banyak menyita waktu kami berdua, kami selingi dengan occasionally hang out berdua sepulang kantor for a quick drink and simple bite di tempat yang cozy dan menyenangkan bagi kami berdua. Tidak jarang kami hang out masing-masing bersama teman-teman kami sendiri ataupun kita hang out berdua bersama teman-teman ku atau sesekali juga dengan teman-teman Rosita. Aku bisa melihat Rosita juga menikmati waktu waktu kebersamaan ini, meskipun dari waktu ke waktu aku tau dia berusaha untuk bisa mengimbangi kebiasaanku yang begitu spontaneous.

 

Pernah satu malam, kami baru pulang kantor, aku ingat hari itu adalah hari Jum’at. Tanpa rencana sebelumnya aku ajak Rosita untuk kita langsung pergi Ke Bandung.  Aku mengusulkan untuk kita tidak usah pulang dahulu ke rumah, tapi langsung saja masuk tol dan menuju ke Bandung. Rosita, yang tidak terbiasa melakukan sesuatu tanpa rencana tentunya gelagapan juga untuk mengikuti kehendakku. Dia berusaha untuk meyakinkanku agar pulang sebentar dan packing a la kadarnya, paling tidak kita ada baju ganti untuk kita bawa untuk menginap over the week end di sana. Meskipun akhirnya aku menuruti usulannya, tapi aku senang dan menghargai usahanya untuk mengimbangi kebiasaanku yang spontaneous ini.

 

Apa yang kelihatannya menyenangkan dalam perkawinan kami di awal ini, ternyata sama sekali tidak membangun kemampuan kamiberdua untuk memiliki deep relationship yang sangat diperlukan dalam sebuah perkawinan.Aku nggak menyadari sama sekali bahwa, kebiasaan-kebiasaanku sebelum aku menikah. Itu harus dirubah karena tanggung jawab dan fungsi baru yang aku miliki yaitu sebagai suami.

 

“A stong relationship start with two people who area ready to sacrafice anything for each other” – unknown

 

Aku sama sekali tidak siap untuk berubah bagi perkawinanku dan juga bagi istriku. Independency ku rupanya jadi kebablasan dan tanpa sadar aku jadi mengkotak-kotakan hidupku, antara kantor dan rumah tangga. Buat aku yang sangat career oriented pada waktu itu, pekerjaanku is my life and my first priority. Sehingga, semua resources yang aku miliki, yaitu energi dan waktu aku pusatkan pada pekerjaan dan karirku. Hal ini kemudian  mengakibatkan upaya untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan Rosita tidak menjadi prioritas. Akibatnya kemudian adalah, jika kami memiliki waktu untuk bersama-sama, kami jadi tidak membicarakan hal-hal yang esensial untuk hubungan kami. Dengan alasan agar waktu bersama yang tidak banyak kami miliki, tidak dibebani dengan hal2 yang stressful dan mengundang konflik. Alasan ini memang tidak terungkapkan secara langsung, tetapi sepertinya itu kemudian menjadi pattern komunikasi yang terbangun dalam hubungan kami di awal.

 

Pada waktu itu aku hanya melihat diriku sebagai professional muda yang sudah menikah, jadi karena fokusku adalah pekerjaan, semua yang lain (termasuk istri) harus mengikuti saja. Hal ini juga kemudian yang membuat aku tidak terpikir untuk membangun etika dan pentingnya untuk melibatkan istriku dalam urusan sosial di perusahaan. Seperti pernikahan karyawan misalanya; pernah satu waktu ada salah satu karyawan kami yang menikah, dan teman-teman di kantor merencanakan akan pergi bersama-sama ke resepsi pernikahannya. Tanpa merasa ada kepentingannya untuk mengajak Rosita ke acara tersebut, aku putuskan untuk pergi ke resepsi pernikahan tanpa Rosita. Aku memang menginformasikan kepada Rosita, bahwa aku akan pergi ke resepsi pernikahan karyawan kami itu, tapi sama sekali aku tidak mengupayakan untuk mengajak dia. Ini purely karena aku begitu fokus dan consumed dengan apa yang buat aku benar dan nyaman saja.

 

Seperti juga misalnya masalah menginformasikan kepada istriku, kalau aku akan pulang lebih malam dari biasanya. Buat aku hal ini bukanlah sesuatu yang perlu  aku lakukan sebagai seorang laki-laki yang sudah menikah. Tetapi rupanya buat Rosita hal ini adalah sesuatu yang fundamental. Dan menurutnya, hal ini tidak ada kaitannya dengan kepercayaan melainkan lebih guna menolong dia untuk bisa berfungsi sebagai istri. Ketika concern ini coba diutarkan oleh Rosita, signal yang aku terima adalah dia tidak percaya padaku.  Dan tentu saja aku kemudian jadi marah dan menyalahkan dia. Karena menurutku pemikiran yang seperti itu hanya akan membuat gerak kita masing-masing jadi terbatas. Kebodohan seperti ini terus mewarnai hubungan pernikahan kami. Dari pada berusaha bertukar pikiran dan membicarakan solusi bagi perbedaan-perbedaan di antara kami, aku malah lebih berusaha untuk menjustifikasi opiniku dan melakukan pembenaran-pembenaran yang tidak berdasar juga.

 

Aku ingat ada satu insiden lain yang menggambarkan betapa prioritasku yang salah, terus merusak sesuatu yang seharusnya aku bangun. Waktu itu kami sedang sama-sama bertugas di Myanmar. Sebagai Direktur Food and Beverage di hotel yang aku buka di Yangon, aku membuat satu inisiatif untuk menggandeng satu perusahaan minuman yang sangat aktif di Yangon untuk menjadi sponsor bagi event2 yang akan kami lakukan di hotel kami. Salah satu strateginya adalah mengadakan house party di resident kami dengan mengundang para vendor dan potential sponsor ini. Rosita mengetahui rencana ini dan memang dia juga akan hadir dalam acara ini, tetapi apa yang terjadi adalah; selama acara itu berlangsung, aku benar-benar sibuk menjadi tuan rumah dan entertain para vendor kami tanpa sama sekali melibatkan dan memperdulikan istriku. Tentu hal ini membuat Rosita marah, tetapi karena pemahamanku tentang peran dan fungsisebagaisuami yangmasih salah, kemarahan Rosita ini aku lihat sebagai satu hal yang terlalu berlebihan saja, apa lagi karena dia juga sama sama berkerja dan memilikki posisi yang tinggi di pekerjaannya. Aku pikir dia harusnya bisa mengerti dan memahami apa yang aku lakukan ini.

 

Asumsi-asumsi yang seperti  ini terus menjadi pola ku dalam hubunganku dengan Rosita. Pada dasarnya aku tidak mau dipusingkan dengan masalah2 lain kecuali itu ada hubungannya dengan pekerjaan dan bisnis. Pemikiran yang egois ini yang mengakibatkan aku gagal untuk belajar membangun hubungan yang lebih dalam dengan istriku.

 

Contoh lain juga yang menunjukkan betapa minimnya pemahamanku tentang peranku sebagai suami adalah ketika suatu waktu, dalam sebuah kesempatan Rosita menyatakan concern nya yang berkaitan dengan gaya pergaulan ku yang sangat casual dengan rekan wanita di tempat kerjaku. Sebenarnya concernnya ini bukan karena dia cemburu, tetapi lebih karena menurut Rosita, pria dan wanita yang sudah menikah harus mempunyai batasan yang berbeda dalam pergaulan (terutama dengan lawan jenis). Ini lebih sebagai bentuk menghargai dan menghormati pasangan masing-masing karena kita sudah menikah. Pada waktu itu, aku sama sekali tidak bisa menerima pandangan istriku. Karena menurutku, aku sama sekali tidak mengambil keuntungan atau memiliki intensi negatif kepada rekan kerja wanitaku dengan gesture akrabku.

 

Memiliki pengalaman terekspose dengan kebudayaan barat selama masa kerjaku di kapal pesiar dan masa kuliahku di Swiss, ditambah dengan budaya tempat kerjaku waktu itu yang juga sangat western oriented, aku sama sekali tidak melihat apa yang aku lakukan ini berbahaya in anyway. Menurutku concern Rosita ini sama sekali tidak mendasar dan untuk itu aku menolak untuk even consider concernnya sama sekali dan tetap pada pendirianku. Sombong dan bodoh bukan?

 

Salah satu hal yang paling aku sukai dari Rosita adalah determinasi dan keberaniannya mengekspresikan opininya secara langsung tanpa basa basi. Aku sangat terbiasa dengan pendekatan seperti ini, sebab di keluargaku kami memang biasa berkomunikasi secara terbuka dan terbiasa juga untuk berbeda pendapat tanpa harus saling membenci. Namun, setelah kami menjalani pernikahan, rupanya Rosita akhirnya lebih memilih untuk mengalah dan memilih untuk tidak berkonfrontasi denganku. Terutama, kalau aku sudah berbicara dengan nada tinggi. Hal ini dia lakukan bukan karena dia takut, melainkan lebih untuk menghindari pertengkaran. Patern ini kemudian juga menjadi pola kami dalam menghadapi perbedaan, kami lebih memilih untuk tidak membicarakannya sampai tuntas, karena kami menghindari konflik dan pertengkaran.

 

Perilaku yang aku ceritakan di atas adalah sebagian kecil saja dari kebiasaan-kebiasaanku yang tidak aku rubah di awal perkawinanku. Semua ini disebabkan karena perspektifku yang salah mengenai pernikahan dan fungsi serta tanggung jawabku sebagai laki-laki yang sudah menikah. Rupanya kebodohan ini berlangsung cukup lama dan sangat mempengaruhi kehidupan pernikahan kami di tahun-tahun berikutnya.

 

Aku berharap, kisah ini bisa memberikan gambaran kepada anda semua, betapa perspektif yang benar mengenai perkawinan,  serta pemahaman mengenai fungsi dan tanggung jawab yang mengikutinya sangat penting. Terutama untuk membangun hubungan yang lebih mendalam dengan pasangan kita agar pernikahan kita dapat menjadi pernikahan yang memberkati bukan hanya bagi kita berdua, tetapi juga anak anak, keluarga dan orang orang lain di sekeliling kita.

 

TAKE-OUTS MENU:

 

  • Dibutuhkan waktu sepanjang pernikahan untuk mengenal pasangan kita.

Sedalam apapun kita merasa sudah mengenal calon pasangan kita sebelum menikah, akan senantiasa ada hal hal baru dari dirinya yang akan kita temui setelah memasukki pernikahan. Tidak jarang di antara temuan temuan baru ini ada yang membuat kita tidak siap dan kecewa karena tidak pernah menyangka hal tersebut ada dalam diri pasangan kita. Bagaimana kita merespon terhadap temuan tersebut menjadi kunci utama apakah kemudian temuan tersebut menjadi hal yang mendukung pertumbuhan hubungan kita dengan pasangan atau sebaliknya.

 

Ingredients: Amsal 27:17, Kejadian 2:24-25

 

Price:Proses pengenalan yang lebih mendalam antara satu sama lain bila disikapi dengan bijaksana dan dewasa, akan menjadi kontribusi positif terhadap pertumbuhan hubungan pasangan. Proses ini tidak dapat dihindari karena memang tujuan Tuhan bagi pernikahan adalah untuk pasangan bersama sama saling membangun karakter yang semakin dewasa dan semakin hari semakin menyerupai Kristus melalui proses saling mengasah, mengingatkan, menegur, membangun, menguatkan dan menghibur.

 

Kejadian 2:25 mengatakan bahwa keduanya telanjang, tetapi tidak menjadi malu. Tuhan merancang sedemikian rupa bahwa setelah memasuki pernikahan, suami dan istri tidak dapat lagi menyembunyikan sesuatu dari pasangan, Tuhan akan membuat mereka telanjang, saling mengenal bukan hanya hal hal baiknya saja, tetapi hal yang terburuk dari pasangan kita akan Tuhan perlihatkan. Karena hanya dengan ketelanjangan yang utuh, suami dan istri saling terbuka, saling berbagi hati, pikiran dan perasaan maka kesatuan total itu bisa terjadi.

 

  • Antisipasi perbedaan

Perbedaan perbedaan yang kita temukan dalam perjalanan pernikahan adalah bagian dari rancangan Tuhan dengan tujuan untuk membangun kekuatan bersama. Jadi kalau kita mulai melihat banyak perbedaan-perbedaan antara kita dengan pasangan, tidak berarti kita salah memilih atau kita memang tidak cocok dengan pasangan kita. Sebaliknya, ini adalah waktunya untuk kita memasuki proses pendewasaan bersama.

 

Ingredients:1 Korintus 12:14-26, Filipi 2:3-8, 2 Korintus 13:11

 

Price:

Seringkali kita membandingkan pernikahan atau pasangan kita dengan pernikahan atau pasangan orang lain. Semakin banyak kita membandingkan, semakin kita merasa ada yang salah dengan pernikahan kita. Stop membanding-bandingkan, karena Tuhan menulis kisah perjalanan yang berbeda beda bagi setiap pernikahan, tetapi pastinya Tuhan memilikki tujuan yang sama bagi semua, yaitu untuk setiap pasangan bertumbuh dewasa dalam iman percaya dan karakter serupa Kristus melalui proses yang terbaik bagi masing masing.

Fokus membangun kerendahan hati di hadapan Tuhan dan pasangan kita, milikki hati seorang murid yang mau menerima teguran dan didikan, bertekunlah dalam perjuangan dengan melibatkan Tuhan untuk menuju kepada kemenangan bersama setiap hari.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *