On Solid Rock

qna@onsolidrock.org

Parents' blessing in marriage

Author By
On Solid Rock Indonesia

 

Seberapa pentingkah restu orang tua dari kedua belah pihak calon pasangan bagi pernikahan mereka? Kalau dipikir secara logika, pernikahan itu dijalani oleh sang anak, maka keputusan mereka lah yang paling utama,  susah senangnya mereka yang harus menjalani bukan?. Bukan pertanyaan yang mudah dijawab memang, tapi mari kita kembali saja kepada Firman dan kita belajar bersama dari apa yang Firman katakan tentang hal ini.

 

Kolose 3:20, Efesus 6:1-3, Keluaran 20:12.

Ayat-ayat ini dengan jelas memerintahkan kita untuk menghormati orang tua kita. Anda juga mungkin sudah memahami bahwa dari sepuluh perintah Allah, hanya perintah ini yang memberikan janji upah.

 

Satu hal yang pasti bahwa segala perintah Tuhan ditujukan untuk memastikan kehidupan yang tinggal diam dalam berkat dan perlindungan Tuhan. Berkat berkat yang kita terima ketika kita mendapatkan restu dari kedua belah pihak orang tua diantaranya adalah:

 

  1. Kita menerima berkat janji Tuhan atas ketaatan kita kepada perintahNya, yaitu umur panjang dan kehidupan yang memuaskan (Keluaran 20:12 versi NLT)

 

  1. Kita mengawali pernikahan kita dengan kekuatan kesatuan; kita dengan pasangan dan kita dengan kedua belah pihak orang tua kita. Kita aman karena tahu mereka siap sedia menjadi pertolongan bagi kita disaat saat yang diperlukan. Kita aman karena tahu selalu ada mereka yang menutup bungkus kita dengan kekuatan doa mereka, dan tentunya kita aman karena kita tahu mereka mengasihi kita sepenuh hati.

 

  1. Kedamaian kita sebagai pasangan tidak harus dirusak oleh hubungan atau tekanan yang tidak perlu dari salah satu pihak orang tua ataupun keduanya yang dipicu oleh ketidak sukaan mereka terhadap kita atau pun pasangan kita, sehingga kita bisa fokus kepada membangun hubungan dengan pasangan.

 

Apakah dengan demikian berarti kita sama sekali tidak boleh membantah untuk menentang keputusan orang tua kita? Bukankah kita sudah dewasa dan memilikki hak dan tanggung jawab penuh atas kehidupan kita pribadi?. Beberapa point berikut ini mungkin dapat menjadi perenungan bagi anda:

 

  1. Bagaimana sikap kita terhadap keberatan atau pertimbangan orang tua?

Pastikan kita memberi sikap hormat dan menghargai dengan tulus terhadap apa yang disampaikan oleh orang tua. Ketika anda memilikki konfiksi kuat atas pilihan anda, dan anda yakin bahwa keberatan orang tua hanya masalah pilihan pribadi mereka, maka anda dapat senantiasa mengupayakan komunikasi yang terbuka dengan mereka, serta melibatkan Tuhan dalam prosesnya. Sikap hormat dan rendah hati dapat membantu orang tua untuk melihat kesungguhan anda dalam memohonkan restu mereka, dan meyakinkan mereka akan kesiapan anda.

 

  1. Apakah yang dipertimbangkan oleh orang tua kita itu adalah hal  yang menuntut kita untuk menentang perintah Tuhan?.

Seberapapun anda tidak setuju dengan pandangan orang tua, ketika itu bukan hal yang menuntut anda untuk menentang perintah Tuhan, selalu buka hati untuk memperhatikan setiap perkataan mereka. Bagaimanapun juga mereka adalah orang tua kita, yang dipercayakan Tuhan untuk menjadi otoritas kita di dunia ini. Selalu waspada bahwa sangat mungkin apa yang mereka sampaikan adalah apa yang Tuhan taruh di hati mereka. Selebihnya, anda dapat menggumulkannya dalam doa untuk Tuhan memberikan pengertiannya kepada anda.

 

Pada akhirnya, ini bukan masalah tentang ketaatan kita kepada orang tua, tetapi yang absolut adalah tentang ketaatan kita kepada Tuhan sebagaimana dikatakan firman di Matius 10:35-37. Jadi kalau anda menghormati dan menghargai orang tua, itu karena anda mau taat kepada perintah Tuhan, karena ketaatan anda pada perintahNya itu adalah kebenaran dan menyenangkan hati Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *