On Solid Rock

MENCEGAH BARA EMOSI

Author By
onsolidrock

Ketika pasangan menghadapi perselisihan, tidak jarang ada salah satu pihak yang lebih dominan dari pasangannya. Tidak jarang juga kami temukan pasangan-pasangan yang cenderung lebih suka mengalah dan tidak mau mengutarakan perasaan, pikiran atau keinginannya secara terbuka, karena tidak mau perbedaan yang mereka miliki menimbulkan perselisihan.

Dalam setiap perselisihan selalu ada resiko untuk berkembang menjadi luapan emosi dan pertengkaran hebat, yang pastinya selalu berujung dengan masing masing menjadi tersakiti dan terluka.

Berikut adalah beberapa kebiasaan-kebiasaan sederhana yang kami terus bangun dalam perkawinan kami, yang terbukti telah menumbuhkan kekuatan pengendalian diri kami:

  1. Mendengar sebelum berbicara
    Berusaha untuk membiarkan pasangan kita yang terlebih dahulu berbicara, terutama ketika pasangan kita yang sedang marah atau kecewa karena apa yang kita lakukan. Mau mendengar lebih dahulu biasanya akan dapat meredam emosi karena orang yang sedang marah umumnya akan menjadi lebih tenang ketika dia merasa dirinya didengarkan.
  1. Akui kesalahan tanpa pembelaan diri
    Jika kita bersalah, beranilah mengakuinya tanpa perlu melakukan pembelaan. Ketika kita dengan tulus dan jujur mengakui kesalahan kita, ini akan membuat pasangan kita pun akan menjadi tenang dan mau membuka diri  juga untuk mau mendengar apa yang ingin kita sampaikan.
  1. Memaafkan dengan tulus
    Ketika pasangan kita mengakui kesalahannya dan meminta maaf, kita perlu belajar untuk tidak menghakimi pasangan kita.  Melainkan katakan dengan jujur apa yang kita rasakan karena perbuatannya tersebut dan buka hati kita untuk dimampukan Tuhan melepaskan maaf dengan tulus.
  1. Menerima dan menyesuaikan
    Kita tidak akan pernah menemukan pasangan yang serasi karena pada dasarnya manusia diciptakan secara unik dan berbeda satu sama lain. Selain itu, kita memiliki kelemahan dan kekurangan masing-masing. Berusaha untuk mencari pasangan yang serasi atau berusaha untuk merubah pasangan kita seperti apa yang kita mau adalah upaya yang sia-sia dan tidak akan pernah berhasil. Yang setiap pasangan harus lakukan adalah masing masing belajar untuk saling menerima tanpa menghakimi dan memberikan kondisi-kondisi tertentu, dan juga saling menyesuaikan diri terhadap kelemahan dan kekurangan pasangan kita, selama kekurangan tersebut bukan merupakan perilaku dosa.
  1. Belajar untuk mengerti premise pasangan kita
    Sebelum kita bisa menerima, kita perlu bisa mengerti lebih dalam apa yang sebanarnya melatar belakangi  ungkapan atau pemikiran pasangan kita. Dan itu bisa kita lakukan dengan menanyakan mengapa pasangan kita bersikap demikian. Dengan menanyakan mengapa atau kenapa kita akan menemukan apa yang sebenarnya dia rasakan, pemikirannya dan juga keinginannya. Identifikasi hal-hal positif yang tersirat dari jawaban2 pasangan kita dan akui itu. Dengan cara ini, kita akan perlahan mulai dapat menerima atau melakukan adjustment yang diperlukan untuk mencapai sebuah kesepakatan

Setiap proses pertumbuhan tidaklah nyaman, tetapi mari kita membangun pengharapan dengan terus memandang pada hasil akhir yang akan diterima, dan menjalaninya dengan terus bergantung pada hikmat tuntunan dan pertolongan Firman Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *